Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Diulas Media AS, Kesuksesan Nego Tarif Trump Dorong Konsumsi dan Ekspor RI
Jumat, 22 Agustus 2025 08:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Kesuksesan Indonesia melakukan negosiasi tarif resiprokal yang dikeluarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diulas media AS, Firstpost. Kesuksesan ini diyakini bakal mendorong konsumsi dalam negeri juga meningkatkan ekspor Indonesia.
Ulasan itu berjudul How Trump's Tariffs Are Fuelling Instan Noodle Boom in Indonesia (Bagaimana Tarif Trump Memicu Pertumbuhan Mie Instan di Indonesia), yang diunggah di kanal YouTube Firstpost, 13 Agustus 2025. Video berdurasi 5 menit 40 detik itu, mengulas pasar mie instan Indonesia tengah booming, didorong oleh kesepakatan dagang besar dengan AS yang memangkas tarif impor gandum hingga mendekati nol.
Gandum, bahan utama mie, akan menjadi lebih murah bagi produsen Indonesia berkat perjanjian ini, yang memungkinkan produsen untuk menurunkan biaya produksi. “Akibatnya, mie instan, makanan sehari-hari bagi jutaan orang Indonesia, diperkirakan akan menjadi lebih terjangkau dan tersedia dalam lebih banyak variasi,” ulas pembawa berita dalam video tersebut.
Dalam narasi video itu juga disebutkan, para ahli memperkirakan bahwa pemotongan tarif ini akan mendorong konsumsi domestik dan ekspor. Memposisikan industri mie Indonesia untuk pertumbuhan yang lebih cepat dan membantunya pulih dari kemunduran akibat pandemi Covid-19.
Pengamat Ekonomi Indef Andry Satrio menyatakan, hasil negosiasi ini sebuah kesepakatan strategis. Mengingat gandum merupakan bahan baku vital dalam produksi mie instan.
"Kami melihat, harapannya tidak hanya untuk konsumsi domestik, tapi juga agar produk olahan ini dapat diekspor ke luar negeri. Produk mie instan kita sudah berorientasi ekspor dari segi kualitas, dengan biaya input yang jauh lebih rendah, gandum menjadi lebih murah," ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Baca juga : Kali Ini Bereskan Polemik Royalti Musik, Dasco Problem Solver
Dia berharap, industri juga akan diuntungkan. Terutama karena industri makanan dan minuman belum kembali pulih ke tingkat pra-pandemi Covid-19.
"Kami berharap dengan biaya input yang lebih rendah untuk produk akhir, produk olahan berbahan dasar tepung gandum ini lebih kompetitif di pasar global dan internasional," sambungnya.
Dia melanjutkan, Indonesia tak memproduksi gandum karena faktor iklim tropis yang tidak sesuai untuk tanaman tersebut. Seluruh kebutuhan gandum nasional harus diimpor. AS selama ini menjadi salah satu pemasok utama.
Dengan pemangkasan tarif ini, biaya input produksi pangan olahan, khususnya mie instan, diproyeksikan akan turun signifikan. Kebijakan ini tak hanya menguntungkan industri dalam negeri melalui penurunan biaya produksi, tapi juga membuka jalan lebih lebar bagi produk-produk Indonesia untuk menembus pasar global.
Media Firstpost pun menilai langkah ini sebagai kemenangan diplomasi ekonomi Indonesia yang mampu menjadikan produk lokal seperti Indomie lebih kompetitif di pasar internasional.
Saat diwawancarai Reuters, 4 Juli 2025, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia menawarkan tarif nyaris nol persen untuk sejumlah komoditas utama asal AS, termasuk produk pertanian seperti gandum. Dengan tawaran ini, Indonesia berhasil menurunkan tarif resiprokal Trump dari 32 persen menjadi 19 persen.
Baca juga : Wamenaker Ditangkap, Prabowo Dukung KPK
Dalam kesempatan berbeda, Airlangga menjelaskan, besaran tarif 19 persen untuk cukup memberikan daya saing ekspor komoditas Indonesia di AS dibandingkan dengan negara mitra dagang AS lainnya. "Dengan tarif 19 persen, Indonesia akan bersaing dengan Thailand, Kamboja, Malaysia, serta Filipina yang dikenai tarif resiprokal sama dengan Indonesia," tutur Airlangga, awal Agustus.
Selain itu, berkah negosiasi tarif dengan Trump juga terjadi di industri alat kesehatan (alkes) lokal. Direktur Operasional PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) Leonard Hariadi Hartanto menyebutkan, saat ini produksi alkes OMED semakin diminati. Sebab, pihaknya menawarkan kualitas bagus dengan harga yang sangat bersaing.
Sepanjang Semester I-2025, OMED, perusahaan manufaktur dan distribusi alkes hingga perbekalan kesehatan rumah tangga dengan merek OneMed, mampu mencatatkan pendapatan Rp 925,8 miliar atau naik 5,25 persen (yoy) dengan laba bersih Rp 154,7 miliar. OMED pede mencapai penjualan Rp 2 triliun di 2025 didorong potensi peningkatan belanja kesehatan Pemerintah.
Di sisi ekspor, meski baru mencapai 5 persen, terus mencatatkan kenaikan sejalan dengan kebijakan perang dagang AS. "OMED melihat potensi peningkatan permintaan alkes dari AS imbas perang dagang AS-China yang membuat importir harus mengalihkan pasokan dari China ke negara lain seperti Indonesia," kata Leonard.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi global akan loyo imbas implementasi tarif AS. Pertumbuhan ekonomi dunia sepanjang 2025 diperkirakan sekitar 3,0 persen, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Namun, di tengah situasi global penuh tantangan plus kebijakan tarif AS, BI melihat, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada dalam tren positif. Untuk Semester II-2025, BI memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 4,6 hingga 5,4 persen. Proyeksi ini didasari membaiknya kinerja ekspor hingga akhir tahun, ekspansi belanja Pemerintah, dan peningkatan investasi.
Baca juga : Soal Tunjangan Rumah Anggota DPR 50 Juta, Puan Kasih Penjelasan
"Pertumbuhan di sekitar 5,1 persen, bahkan bisa lebih tinggi," tutur Gubernur BI Perry Warjiyo, saat Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Periode Agustus 2025, di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Sebagai bagian dari NKRI, BI terus menjalin sinergi yang sangat kuat dengan pemerintah untuk mendukung program-program Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita. Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, ada lima hal yang dilakukan BI.
Pertama, suku bunga BI Rate sudah diturunkan 5 kali sejak September 2024 sebesar 125 bps. Kedua, BI terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Ketiga, membeli Surat Berharga Negara (SBN) dengan jumlah Rp 186 triliun, belum termasuk untuk debt switching. Keempat, memberikan insentif likuiditas kepada bank-bank dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas pendukung Asta Cita. Kelima, memperluas layanan QRIS luar negeri.
“Alhamdulillah, puji Tuhan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang pada 2 April 2025 sebesar Rp 17.300, sekarang sudah menguat menjadi Rp 16.250,” terangnya, dalam Rapat Kerja Penyampaikan Pokok-Pokok RUU APBN 2025, di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (21/8/2025).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya