Dark/Light Mode

Rencana KAI Diyakini Beri Efek Positif

Kereta Petani Bakal Kerek Ekonomi Dan Rem Urbanisasi

Selasa, 2 September 2025 06:35 WIB
Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indo­nesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno. (Foto: Instagram/djoko_setijowarno)
Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indo­nesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno. (Foto: Instagram/djoko_setijowarno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menghadirkan layanan angkutan kereta khusus petani dan pedagang, diyakini akan memberi banyak dampak positif. Di antaranya, mendongkrak perekonomian daerah dan menekan angka urbanisasi.

Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indo­nesia (MTI) Pusat Djoko Setijowarno mengapresiasi langkah KAI yang tengah menyiapkan layanan baru berupa kereta khusus untuk mengangkut hasil pertanian dan barang dagangan dari desa ke kota.

Menurut Djoko, kereta khusus ini menunjukkan empati KAI pada kalangan petani dan peda­gang di daerah pedesaan, untuk memenuhi kebutuhan keseharian masyarakat perkotaan.

Hal ini tentu dapat mening­katkan perekonomian desa dan mengurangi tingkat urbanisasi.

Baca juga : Menperin: Industri Butuh Iklim Kondusif

“Keuntungan setelah ada kere­ta khusus petani dan pedagang, akan menghambat urbanisasi ke perkotaan,” ujar Djoko ke­pada Rakyat Merdeka, kemarin.

Dengan adanya kereta khusus ini, sambung dia, tidak menutup kemungkinan para petani dan pedagang bisa meningkatkan kapasitas barang yang diangkut. Bahkan, jumlah petani dan peda­gang pun berpotensi meningkat.

Sebagai informasi, selama ini para petani dan pedagang menggunakan kereta lokal atau KRL (Kereta Rel Listrik) untuk mengangkut hasil dan barang dagangannya.

Namun dengan adanya kereta khusus, maka penumpang tidak akan terganggu dengan tumpukan barang pedagang dan hasil bumi petani. Bahkan, bisa saja mereka akan mengangkut hewan ternak.

Baca juga : ASN, Driver Ojol Hingga Pelajar Gotong Royong

“Ini kan justru dapat meningkatkan perekonomian desa,” ungkapnya.

Dia melihat, ada permintaan yang cukup tinggi dari petani dan pedagang di wilayah Banten dalam menggunakan kereta. Mereka biasanya menjajakan dagangannya di Tangerang Se­latan dan Jakarta.

Sementara penumpang yang menggunakan KRL Commuter Line, sambung dia, juga meningkat dari Rangkasbitung menuju Tanah Abang.

“Makanya, ini perlu ada kereta khusus bagi petani dan pedagang di lintas ini yang terpisah dengan kereta penumpang (KRL Com­muter Line),” katanya.

Baca juga : Di KPK, Yaqut Dicecar Lagi Selama Tujuh Jam

Menurut Djoko, para petani dan pedagang berangkat mulai jam 04.00 WIB dari Stasiun Rangkasbitung, kemudian ber­henti di stasiun keberangkatan petani dan pedagang, seperti Stasiun Citeras, Stasiun Maja dan Stasiun Tenjo.

Kemudian, petani dan peda­gang akan berhenti di Stasiun Parung Panjang, Stasiun Ser­pong, Stasiun Sudimara, Stasiun Kebayoran, Stasiun Palmerah dan Stasiun Tanah Abang.

Namun, ada yang melanjut­kan hingga Stasiun Manggarai dengan KRL Commuter Line yang berbeda. Keberangkatan terbanyak dari Stasiun Maja dan tujuan terbanyak adalah Stasiun Tanah Abang.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.