Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pengamat: Program SPHP Sukses Stabilisasi Harga Beras Di Pasar
Senin, 15 September 2025 12:03 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Akademisi Universitas Nusa Cendana, Ricky Ekaputra Foeh mengapresiasi strategi Pemerintah menjaga stabilitas harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Ia bilang, kolaborasi Bulog, Kementerian Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri mengguyur pasar menggunakan beras SPHP sukses menekan harga beras di lapangan. Sehingga, daya beli masyarakat terjaga dan tak ada inflasi pangan.
“Intervensi Pemerintah melalui beras SPHP sukses meredam gejolak harga dalam jangka pendek,” kata Ricky, dalam keterangannya, Senin (15/9/2025).
Meski begitu, Ricky menilai Pemerintah perlu menyiapkan strategi lanjutan agar tidak terjebak pada pola intervensi jangka pendek. Menurutnya, stabilisasi harga pangan harus ditopang oleh peningkatan produktivitas pertanian, modernisasi rantai pasok, efisiensi distribusi antar-wilayah, penguatan cadangan beras Pemerintah.
Baca juga : Gandeng Perdami, Sido Muncul Gelar Operasi Katarak Gratis Di Indramayu
"Dukungan bagi petani lewat pupuk, benih unggul, teknologi, dan perluasan ke komoditas pangan lain," ucapnya.
Ricky menambahkan, keberhasilan Pemerintah menyesuaikan harga beras perlu diperluas ke komoditas strategis lain seperti daging, minyak goreng, bawang putih, dan tepung terigu. "Fluktuasi harga pada komoditas tersebut dapat berdampak langsung pada UMKM kuliner, industri makanan, hingga konsumsi rumah tangga," imbuh Ricky.
Selain itu, tata niaga dan distribusi pangan juga harus diperbaiki. Menurut Ricky, harga pangan tinggi bukan hanya karena faktor produksi, tetapi juga akibat biaya distribusi yang mahal dan rantai perantara yang panjang.
Baca juga : Pengamat Nilai Program Kakorlantas Agus Suryo Jadi Wajah Baru Polri Presisi
“Reformasi rantai pasok sangat penting untuk menekan biaya logistik, memperkuat transportasi antarwilayah, dan memangkas rantai distribusi agar harga di tingkat konsumen lebih stabil,” tegas Ricky.
Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga beras masih tercatat di 214 kabupaten/kota. Namun, pada pekan pertama September 2025, jumlahnya menurun drastis menjadi hanya 100 kabupaten/kota. Sebaliknya, daerah yang mengalami penurunan harga meningkat dari 58 menjadi 105 kabupaten/kota.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan, keberhasilan ini tak lepas dari operasi pasar yang digelar secara masif di berbagai wilayah Indonesia. Pada periode Juli-Desember 2025, Pemerintah menargetkan penyaluran sebanyak 1,3 juta ton beras SPHP ke pasar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya