Dark/Light Mode

62.000 Ton Akan Masuk Pasar

Bawang Putih China, Siapa Berani Makan

Jumat, 14 Februari 2020 04:17 WIB
Bawang putih (Foto: Istimewa)
Bawang putih (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dua pekan terakhir, harga bawang putih di pasaran melonjak naik. Dari Rp 20 ribu jadi Rp 70 ribu per kilogram. Agar harganya bisa ditekan, pemerintah mau mengimpor bawang putih 103 ribu ton. Dalam waktu dekat 62 ribu ton bawang putih akan segera masuk pasar. China yang saat ini sedang heboh kasus corona jadi salah satu negara pengimpornya. Nah, kira-kira apa konsumen kita mau makan bawang putih dari China ini? 

Rencana impor bawang putih dari China ini diketahui setelah Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI). Sekjen Kemendag, Oke Nurwan, mengatakan, semua persyaratan impor tersebut sudah terpenuhi. 

Penerbitan izin ini berdasarkan surat Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) dari Kementerian Pertanian (Kementan) sebanyak 103 ribu ton. Namun, baru 62 ribu ton yang memenuhi persyaratan impor Kemendag. 

Oke memastikan, bawang putih yang diimpor dari China ini aman. Tidak membawa virus corona. Untuk itu, masyarakat tak perlu takut bawang putih ini akan menularkan virus mematikan asal Wuhan, China itu. Dari penelitian yang dilakukan Organiasasi Kesehatan Dunia (WHO), pembawa virus corna adalah binatang hidup. 

Berita Terkait : Kementan Dorong Produksi Bawang Merah Berkualitas di Enrekang

“Bawang putih tidak ada hubungannya dengan virus corona. Hanya binatang hidup (tidak termasuk produk ikan) yang dikategorikan sebagai pembawa virus dan hal ini kita sudah larang sementara,” kata Oke, usai menghadiri konferensi pers Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP), di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, kemarin. 

Ia menuturkan, bawang putih ini harus segera diimpor karena akan didistribusikan untuk mengamankan kebutuhan di bulan Puasa dan Hari Raya Idul Fitri. 

Sementara itu, untuk mengamankan kebutuhan saat ini dan menstabilisasi harga bawang putih, Kemendag meminta para importir yang masih memiliki stok untuk segera mendistribusikannya. Ia yakin, dengan impor ini, harga bawang putih di pasaran agan segera pulih. 

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, menyebut, kenaikan itu diduga karena ada kepanikan menanggapi rencana pemerintah menunda impor bawang putih dari China. Wacana itu membuat sejumlah distributor lebih hati-hati megeluarkan pasokan. Akibatnya, pasokan di pasar ritel berkurang. Harga pun kian meningkat menjadi Rp 70 ribu per kilogram. 

Berita Terkait : Wabah Corona Hambat Ekspor Manggis ke China, Kementan Alihkan ke AS dan Rusia

“Terjadi kepanikan publik dengan adanya isu tentang kemungkinan kelangkaan karena ada virus dari negara pengimpor. Padahal, kita juga masih punya cadangan bawang putih,” kata Syahrul Yasin, kemarin. Ia menyatakan, stok cadangan bawang putih masih cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional, yakni sekitar 45.000-47.000 ton per bulan. 

Meski sudah dipastikan aman, masih banyak warga yang khawatir. Hal itu tercerminta dari cuitan mereka di dunia maya. Akun @Ikademan_Yong masih ragu bawang putih dari China itu benar-benar aman. “Virus corona ikut mbonceng gak ya? Kalau ada siapa yang berani makan,” ujarnya. 

Pemilik akun Kian Sang minta agar jangan mengimpor dari China. “Ada alternatif lain gak selain China,” ujarnya. “Pas datang pasti maskeran,” celetuk @aseps47. 

Kenapa impornya dari China? Ketua Perkumpulan Pelaku Usaha Bawang dan Sayuran Umbi Indonesia (Pusbarindo), Valentino, menyatakan impor bawang putih hanya bisa dilakukan dari China. Sebab, cuma negara tersebut yang memenuhi persyaratan sertifikat Good Agricultural Practices (GAP) dari Kementan. “Kita sudah puluhan tahun mungkin, bahwa China satu-satunya negara yang pelaku usaha eksportir bawang putihnya sudah sangat siap dengan sertifikasi GAP,” kata Valentino, di Surakarta, kemarin. 

Berita Terkait : Pacu Produksi Bawang Putih, Kementan Dorong Petani Temanggung Manfaatkan Dana KUR

Ia mengakui ada negara-negara lain sebagai alternatif pemasok bawang putih, seperti India, Mesir, hingga Amerika Latin. Sayangnya, semuanya belum bisa memenuhi sertifikasi GAP. 

Namun demikian, para importir menyambut positif jika Ditjen Hortikultura Kementan menderegulasi persyaratan sertifikasi GAP. Hal itu agar pasokan impor bawang putih tidak hanya bergantung dari China. 

Produksi bawang putih dalam negeri saat ini baru mencapai 85.000 ton per tahun atau sekitar 10 persen dari kebutuhan nasional. Sedangkan 90 persennya harus dipenuhi lewat impor. Sebagian besar impor bawang putih tersebut didatangkan dari China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada 2019, Indonesia mengimpor bawang putih dari China mencapai 465.000 ton atau setara 529,96 juta dolar AS. [BCG]