Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Terowongan Geureutee Aceh: Menembus Gunung, Menguak Harta Karun
Jumat, 31 Oktober 2025 13:38 WIB
Proyek Terowongan Geureutee Aceh yang akan segera dibangun oleh pemerintah pusat, bukan sekadar soal menembus gunung. Di balik euforia konektivitas itu, ada hal lain yang tak tak kalah penting: menguak harta karun geologis di perut bumi Aceh.
Antusiasme publik, apalagi setelah lobi yang dilakukan Muzakir Manaf (Mualem) berhasil menghidupkan kembali wacana besar tersebut, sangat bisa dipahami. Sebab bagi masyarakat di wilayah Barat Selatan, terowongan ini bukan sekadar proyek beton, melainkan simbol pemerataan pembangunan yang sudah terlalu lama tertunda.
Janjinya memang besar. Jalur Banda Aceh-Barat Selatan Aceh yang selama ini menanjak dan berkelok curam akan dipangkas jaraknya hingga 40 persen. Waktu tempuh berkurang, angka kecelakaan bisa ditekan, dan konektivitas ekonomi di delapan kabupaten/kota Barat Selatan Aceh akan meningkat drastis.
Dari perspektif pembangunan, ini langkah besar. Namun, di balik gegap gempita itu, ada hal lain yang perlu kita renungkan lebih dalam: apa sebenarnya yang akan dibelah dari tubuh Gunung Geureutee itu?
Bukan Sekadar Terowongan
Dalam dokumen Detailed Engineering Design (DED) Dinas PUPR Aceh, disebutkan bahwa terowongan Geureutee akan memiliki panjang sekitar empat kilometer. Jika setiap bagian terowongan memiliki lebar 10 meter dan tinggi 7 meter, maka volume batuan yang harus digali bisa mencapai 280.000 meter kubik. Dengan berat jenis batuan sekitar 2,7 ton per meter kubik, berarti total material yang akan keluar dari proyek ini bisa mencapai lebih dari 750.000 ton batuan.
Baca juga : Bakso Boedjangan Hadirkan Cita Rasa, Pelayanan Hingga Desain Baru
Dalam proyek besar, angka ini mungkin terlihat teknis. Namun bagi seorang geolog, angka ini sangat besar dan berarti. Sebab di kawasan Geureutee, berdasarkan peta geologi Pusat Survei Geologi (2018), tersimpan lapisan batuan intrusi granodiorit dan ultramafik. Ini adalah jenis batuan yang sering mengandung mineral berharga seperti emas, tembaga, perak, bahkan logam tanah jarang (rare earth elements).
Batuan ini terbentuk akibat proses tektonik kompleks antara Lempeng Indo-Australia dan Eurasia di jalur Busur Bukit Barisan. Dalam dunia tambang, zona seperti ini dikenal sebagai ”sabuk mineralisasi” atau mineral belt.
Bila setiap ton batuan memiliki kadar emas 1-3 gram saja, maka dari 750.000 ton material galian itu, potensi kandungan logam mulia yang ikut terangkat bisa mencapai 750 hingga 2.250 kilogram emas. Jika dikonversi dengan harga emas saat ini (sekitar Rp 1,3 miliar per kilogram), nilai ekonominya bisa mencapai Rp 975 miliar hingga Rp 2,9 triliun.
Nilai yang hampir setara dengan setengah dari anggaran pembangunan terowongan itu sendiri. Dan itu baru estimasi dari kandungan emas. Belum menghitung logam tanah jarang yang kini menjadi rebutan industri global—bahan baku untuk baterai, teknologi hijau, hingga industri pertahanan. Bahkan tidak menutup kemungkinan, potensi yang terdapat dalam galian mineral itu jauh lebih besar dari nilai proyek itu sendiri.
Pertanyaannya sederhana: apakah pemerintah sudah menyiapkan mekanisme pengawasan dan audit mineral terhadap material hasil galian proyek ini? Ataukah, seperti banyak proyek besar lainnya di negeri ini, batuan itu hanya akan dikategorikan sebagai ”limbah” tanpa pernah diuji kandungannya?
Jika benar demikian, maka pembangunan yang disebut bernilai Rp 4 triliun ini bisa saja malah mengeluarkan kekayaan mineral yang nilainya lebih besar dari biaya pembangunannya.
Baca juga : Pidato Prabowo di Hari Sumpah Pemuda: Bangsa Besar Lahir dari Pemuda yang Berani
Menjaga Nurani Di Balik Beton
Aceh punya sejarah panjang tentang bagaimana kekayaan alam sering kali tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan rakyatnya. Dari gas Arun di Lhokseumawe hingga tambang emas di Beutong dan Nagan Raya, semua memberi pelajaran yang sama: tanpa transparansi dan pengawasan, kekayaan bisa menjadi kutukan.
Terowongan Geureutee memang dibangun untuk membuka jalan baru bagi pembangunan, tapi ia juga membuka peluang baru bagi potensi penyimpangan jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, penting agar proyek ini diawasi sejak tahap awal. Pemerintah Aceh bersama lembaga teknis nasional, seperti Pusat Survei Geologi dan BRIN, perlu turun langsung untuk melakukan analisis geokimia dan pemetaan mineral.
Jika ditemukan kandungan mineral berharga, hasilnya harus dilaporkan secara transparan dan dikelola sesuai ketentuan negara. Jangan sampai publik hanya mendengar kabar tentang panjang terowongan, tapi tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ikut keluar dari perut gunung itu. Karena di balik setiap bongkahan batu yang digali, tersimpan hak rakyat Aceh yang tak boleh hilang begitu saja.
Aceh memiliki filosofi yang luhur tentang tanah dan alamnya: ”tanoh nyan darah ureueng” (tanah itu darah manusia). Kalimat sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap pembangunan harus berpijak pada rasa hormat terhadap bumi dan rakyatnya. Maka, pembangunan yang benar bukan hanya menembus gunung, tapi juga menembus kegelapan ketidakjujuran.
Terowongan Geureutee seharusnya menjadi simbol kemajuan yang berakar pada ilmu dan integritas. Karena kemajuan tanpa kejujuran hanya akan menggali lubang yang lebih dalam di hati rakyat. Dan bila kelak cahaya menembus keluar dari ujung terowongan itu, semoga yang tampak bukan hanya lampu kendaraan yang lewat, tetapi juga sinar harapan baru bahwa Aceh benar-benar belajar menggali masa depan dengan jujur, bukan sekadar menggali batu untuk dijual diam-diam.
Baca juga : Menteri Nusron Gandeng KPK, Benahi Layanan Pertanahan
Geureutee kini bukan sekadar nama gunung di jalur lintas Aceh. Ia sedang menjadi simbol pertaruhan antara harapan dan keserakahan, antara ilmu dan kepentingan, antara kemajuan dan keadilan. Terowongan ini bisa menjadi tonggak baru pembangunan Aceh atau malah menjadi saksi bisu bagaimana kekayaan bumi kembali hilang tanpa bekas.
Dan seperti pepatah Aceh yang pernah diucapkan oleh ulama di Aceh, ”Meukuta, jih hana that; tapi akal, jih that lam tanoh.” Kemajuan tak diukur dari kemegahan yang tampak, tapi dari kebijaksanaan yang mengakar di tanah sendiri.
Delky Nofrizal Qutni
Wakil Ketua DPW Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Provinsi Aceh
Wakil Ketua DPW Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia (APRI) Provinsi Aceh
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya