Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Stabil di Tengah Gejolak, Makna Pertumbuhan Ekonomi 5,04% bagi Indonesia
Kamis, 6 November 2025 22:37 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,04 persen pada triwulan III-2025 menjadi kabar baik di tengah tekanan global yang masih bergejolak. Angka ini memang tidak spektakuler, namun menunjukkan konsistensi bahwa ekonomi nasional masih mampu bertahan dan tumbuh stabil di atas lima persen selama beberapa tahun terakhir. Di saat banyak negara besar menghadapi perlambatan akibat ketegangan geopolitik, krisis energi, dan pelemahan permintaan global, capaian ini menandakan fondasi ekonomi Indonesia relatif kokoh.
Namun, di balik angka pertumbuhan itu, tersimpan pertanyaan penting, apakah pertumbuhan ini benar-benar berkualitas dan inklusif? Apakah 5,04 persen ini mencerminkan kesejahteraan yang dirasakan merata oleh masyarakat, atau sekadar menunjukkan ketahanan statistik di atas kertas?
Menelisik Sumber Pertumbuhan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2025 masih berasal dari konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ini menunjukkan daya beli masyarakat tetap terjaga, meski tekanan harga pangan dan energi sempat meningkat. Selain itu, investasi (PMTB) dan ekspor komoditas seperti nikel, batu bara, dan CPO masih menjadi motor utama.
Namun, ketergantungan pada komoditas mentah perlu menjadi perhatian serius. Ketika harga global turun, dampaknya langsung terasa pada penerimaan negara dan aktivitas industri hulu. Di sinilah pentingnya transformasi ekonomi menuju sektor manufaktur dan industri bernilai tambah, agar pertumbuhan tidak hanya stabil, tetapi juga berkelanjutan.
Tantangan, Dari Stabilitas Menuju Kualitas
Pertumbuhan lima persen memang membanggakan, tetapi tantangan struktural masih nyata. Kesenjangan antarwilayah, produktivitas tenaga kerja yang belum optimal, dan kualitas pendidikan serta infrastruktur digital yang belum merata menjadi pekerjaan rumah besar.
Stabilitas makroekonomi harus diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang layak, terutama bagi generasi muda yang kini menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif. Dalam konteks akuntansi pembangunan, pertumbuhan ekonomi semestinya tidak hanya dilihat dari sisi output, tetapi juga nilai sosial dan keberlanjutan yang dihasilkan.
Momentum Kebijakan Fiskal dan Transformasi Hijau
Pemerintah memiliki momentum besar untuk menjadikan pertumbuhan 5,04 persen ini sebagai pijakan transformasi. Penguatan fiskal yang kredibel, dorongan terhadap industri hijau dan digitalisasi UMKM, serta percepatan transisi energi harus menjadi prioritas.
Kebijakan subsidi yang tepat sasaran, pengendalian inflasi, serta efisiensi belanja publik menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi benar-benar berdampak bagi masyarakat bawah. Di sinilah peran akuntabilitas publik dan transparansi fiskal menjadi penting agar setiap rupiah belanja negara betul-betul memberi nilai tambah ekonomi dan sosial.
Makna Strategis bagi Masa Depan
Angka 5,04 persen bukan sekadar statistik ekonomi. Ia mencerminkan daya tahan bangsa dalam menghadapi turbulensi global. Namun, jika ingin melangkah lebih jauh, Indonesia perlu memperluas makna pertumbuhan itu, dari sekadar bertahan menjadi bertransformasi.
Ekonomi Indonesia perlu diarahkan menjadi ekonomi berkeadilan, berbasis inovasi, dan berkelanjutan. Pertumbuhan yang tidak hanya mengejar angka, tetapi juga menghadirkan kesejahteraan yang nyata bagi seluruh rakyat Indonesia.
Stabilitas ekonomi adalah pondasi, tetapi keberlanjutan dan pemerataan adalah tujuan. Pertumbuhan 5,04 persen harus dimaknai bukan sebagai akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju transformasi struktural ekonomi Indonesia. Saat dunia berguncang, Indonesia masih mampu berdiri tegak. Kini saatnya memastikan bahwa stabilitas ini menjadi jembatan menuju ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan ekonomi yang bukan hanya tumbuh, tetapi juga memanusiakan.
Dr. H. Suripto, S.E., M.Ak
Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris FORSILADI Provinsi Banten
Ketua Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang, Sekretaris FORSILADI Provinsi Banten
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya