Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Pertamina Pionir Teknologi MSF Pertama Di Indonesia, Dukung Swasembada Energi
Sabtu, 15 November 2025 09:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat komitmennya mewujudkan swasembada energi nasional sejalan dengan Asta Cita Pemerintah. Salah satu langkah strategis diwujudkan melalui inisiatif Project Multistage Fracturing (MSF), yang mendukung peningkatan produksi minyak dan gas di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR). Penerapan teknologi ini sekaligus menjadikan Pertamina sebagai pionir penggunaan MSF di Indonesia, membuka peluang optimalisasi cadangan energi nasional secara lebih efisien.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengapresiasi capaian Pertamina yang mampu menjadi pelopor dalam penerapan teknologi hulu migas tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti kemampuan nasional dalam menguasai teknologi yang sebelumnya didominasi perusahaan internasional.
“Inovasi Pertamina melalui teknologi Multistage Fracturing menjadi lompatan besar bagi industri hulu migas Indonesia. SKK Migas mendukung penuh langkah strategis peningkatan produksi sekaligus memperkuat kemandirian teknologi dalam negeri,” ujar Djoko.
Dalam kunjungan kerja ke proyek MSF pada 12 November 2025 di Riau, Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menegaskan bahwa inisiatif ini selaras dengan mandat Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Pertamina. Mandat tersebut menekankan pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan produksi nasional demi mencapai swasembada energi.
Baca juga : Pujian Raja Yordania ke Prabowo: Indonesia Menuju Arah yang Lebih Baik
“Pemerintah terus mendorong Pertamina untuk meningkatkan ketahanan dan kedaulatan energi, salah satunya melalui peningkatan agresivitas produksi di sektor hulu,” ujar Simon.
Ia berharap operasi bisnis Pertamina semakin berkembang sehingga kinerja perusahaan menjadi lebih efisien, inovatif, dan tetap mengutamakan keselamatan kerja. “Target tersebut akan terus kami upayakan melalui berbagai inisiatif agar produksi terus tumbuh,” tambahnya.
Simon juga menekankan pentingnya kolaborasi antarpihak dalam mendorong kedaulatan serta ketahanan energi nasional. Ia memberikan apresiasi kepada Perwira Pertamina, khususnya PHR, atas capaian yang telah diraih.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Direktur Pertamina, Oki Muraza, mengungkapkan bahwa proyek MSF berhasil menurunkan biaya dan meningkatkan efisiensi operasional pemboran serta komplesi sumur.
Baca juga : Kementan Tinjau Program P2B Di Kulon Progo Dan Sleman
“Melanjutkan keberhasilan 2024, tahun ini PHR mengembangkan sumur horizontal MSF dengan teknologi yang jauh lebih efisien: perforasi menggunakan eksplosif dan sistem one-run plug and perf di setiap stage-nya menggunakan smart coiled tubing. Konfigurasi ini menjadi yang pertama di Indonesia dan merupakan terobosan besar dalam efisiensi waktu, logistik, dan biaya,” jelas Oki.
Ia menambahkan bahwa proyek MSF diharapkan dapat direplikasi di seluruh Pertamina Group demi mendukung target swasembada energi. Oki juga mengapresiasi kolaborasi lintas fungsi yang memungkinkan proyek ini terlaksana optimal.
MSF sendiri merupakan teknologi mutakhir yang meningkatkan produktivitas sumur dengan menciptakan beberapa rekahan di sepanjang sumur horizontal. Teknologi ini memungkinkan pengambilan cadangan minyak dan gas secara maksimal dari satu sumur.
Setelah keberhasilan sumur MSF pertama di tahun 2024, implementasi lanjutan dilakukan di sumur KB570, Lapangan Kotabatak, Zona Rokan, Kabupaten Kampar, Riau. Sepanjang 2025, PHR menargetkan pengembangan beberapa sumur Horizontal Multistage Fracturing (HZ MSF) di Lapangan Kotabatak dan Balam South East. Target ini akan diperluas pada 2026, mencakup Lapangan Kotabatak, Bangko, dan Balam South East.
Baca juga : Astra Dukung Peran Indonesia pada COP30 di Brazil
Milestone program HZ MSF diharapkan terus meningkat setiap tahun, dengan cakupan lapangan lebih luas dan biaya pemboran semakin efisien. Pada 2026, Pertamina menargetkan replikasi MSF ke berbagai wilayah operasi untuk memastikan produksi sektor hulu migas tetap aman, efisien, dan produktif.
Sebagai pemimpin transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 melalui program-program yang berkontribusi pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya