Dark/Light Mode

Khawatir Dikuasai Asing

Pasar Domestik Dulu, Ekspor Kemudian

Rabu, 30 Januari 2019 08:34 WIB
Menteri Koperasi UKM AAGN Puspayoga (baju merah) saat meninjau show room Kejaya Handicraft, di Desa Kedayunan, Kabat, Banyuwangi, kemarin. (Foto : dok KUKM)
Menteri Koperasi UKM AAGN Puspayoga (baju merah) saat meninjau show room Kejaya Handicraft, di Desa Kedayunan, Kabat, Banyuwangi, kemarin. (Foto : dok KUKM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gencarnya pelaku usaha kecil dan mikro (UKM) membidik pasar global diharap tidak melupakan besarnya potensi yang ada di dalam negeri. Karenanya, sebelum berkibar di pasar global, produk UKM disarankan sudah menguasai pasar domestik dulu.

Seperti yang dilakukan Khobin, yang sudah sukses mengekspor buste houder (BH/bra) berbahan batok kelapa hingga ke Pulau Tahiti, yaitu pulau terbesar di Polinesia Perancis, di bagian selatan Samudera Pasifik. Selain itu, produk BH batok juga dikirim Hawaii dan Jamaika.

Menurut Ibien, sapaannya, produk dari Kejaya Handycraft sebenarnya tidak hanya menyasar pasar global. Karena, produk yang kebanyakan berasal dari alam, seperti pelepah pisang, batok kelapa, rotan, dan kayu jati itu juga sangat diminati di Tanah Air.

Baca juga : Dulu Impor, Sekarang Mau Ekspor

“Saya membagi penjualan produk kami menjadi 60 persen domestik dan 40 persen ekspor,” kata pria berjenggot dan berkumis lebat ini.

Menyoal ini, Menteri Koperasi UKM AAGN Puspayoga mengapresiasi keberhasilan yang diraih Ibien. Itu artinya, UKM tersebut tak kalah bersaing dengan pemain di pasar global. “Tapi jangan melupakan pasar domestik, di mana Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar ini malah menjadi incaran asing, untuk bisa mengekspor produknya ke Indonesia,” kata Puspayoga saat meninjau show room Kejaya Handicraft, di Desa Kedayunan, Kabat, Banyuwangi, kemarin.

Apalagi, kata Puspayoga, permintaan domestik akan kerajinan berbahan baku alam kini terus meningkat. Sekarang konsumen domestik banyak yang mencari kerajinan khas dan unik. Berbeda dengan dulu, yang laris hanya kain batik atau makanan khas.

Baca juga : Nikita : Skipsi Dulu, Menikah Kemudian

“Sekarang produk handycraft juga banyak dicari. Makanya saya berpesan, agar pasar domestik juga bisa digarap secara optimal. Jangan sampai pasar kita dicaplok asing,” tambahnya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (Diskopum) Banyuwangi Alief R Kartiono menjelaskan, usaha mikro di Banyuwangi tidak lepas dari ragam festival yang digelar Pemkab Banyuwangi. Misalnya Festival Art Week, yang memamerkan produk kerajinan dan seni selama empat hari, yang menghasilkan total omzet ratusan juta rupiah.

Ia menyarankan, pelaku usaha kecil yang telah mengenal in- ternet marketing bisa mengoptimalkan cara pemasaran lewat teknologi. Apalagi sekarang sudah ada saluran fiber optic di 163 desa di Banyuwangi. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :