Dark/Light Mode

Ekonomi Hijau, Nafas Baru bagi Industri Kreatif Indonesia

Senin, 24 November 2025 13:49 WIB
Ilustasi energi hijau. (Gambar dibuat dengan canva)
Ilustasi energi hijau. (Gambar dibuat dengan canva)

Ketika dunia berbicara tentang ekonomi hijau, yang sering muncul di benak kita adalah energi terbarukan, kendaraan listrik, atau reboisasi dan aforestasi hutan. Namun; di balik layar industri kreatif Indonesia, mulai dari studio film, workshop batik, hingga ruang digital para desainer muda, sedang tumbuh potensi besar yang kerap luput dari peta kebijakan ekonomi hijau yang berbasis ide dan imajinasi.

Industri kreatif sejatinya punya kekuatan ganda. Ia bukan hanya penggerak ekonomi, tetapi juga medium komunikasi sosial. Melalui karya, pelaku kreatif menyampaikan gagasan, membentuk selera publik, dan mempengaruhi perilaku masyarakat. Di sinilah peran pentingnya, mengubah cara pandang masyarakat terhadap lingkungan melalui narasi, visual, dan gaya hidup yang berkelanjutan.

Dalam konteks komunikasi, isu hijau bukan sekadar ajakan moral, tapi pesan budaya yang perlu dikomunikasikan dengan cara yang relevan dan menarik. Industri kreatif memiliki kemampuan alami untuk mengemas pesan itu tanpa kesan menggurui. Film bisa mengubah cara kita memandang sampah dan ruang hidup. Fashion bisa menjadi simbol kesadaran ekologis. Musik, iklan, dan karya digital bisa membangun “branding hijau” bagi bangsa. Ketika pesan keberlanjutan diolah dengan bahasa estetika, ia punya kekuatan persuasif yang jauh lebih besar dibanding kampanye formal pemerintah.

Baca juga : Diplomasi Internasional dan Moderasi Islam di Indonesia

Sayangnya, kesadaran ini belum sepenuhnya menjadi arus utama. Banyak pelaku kreatif sudah mulai menerapkan prinsip hijau dalam praktik mereka, menggunakan bahan ramah lingkungan, mendaur ulang properti produksi, atau menghemat energi, tetapi belum mendapat dukungan sistemik. Dalam wacana ekonomi nasional, sektor hijau masih dianggap urusan teknologi dan industri berat, bukan urusan para seniman, desainer, atau kreator konten. Padahal, jika ditelusuri, sektor kreatif justru berperan penting dalam green behavior change, yakni perubahan perilaku masyarakat menuju pola hidup lebih sadar lingkungan.

Ada contoh menarik dari sejumlah pelaku industri lokal. Beberapa produk tekstil asli produksi dan karya anak bangsa, telah menanamkan konsep “jejak sosial” dan “jejak ekologis” pada setiap produknya. Mereka tidak hanya menjual busana, tapi juga mengedukasi publik tentang rantai produksi yang adil dan ramah lingkungan. Di sektor film, mulai muncul inisiatif green production, menggunakan properti daur ulang, minim plastik sekali pakai, hingga efisiensi energi di lokasi syuting. Semua ini adalah bentuk komunikasi simbolik tentang tanggung jawab sosial yang dikirimkan lewat tindakan, bukan sekadar kata.

Namun, komunikasi hanya efektif jika ada sistem yang mendukungnya. Industri kreatif hijau masih menghadapi kesenjangan besar, belum ada standar sertifikasi, belum ada insentif fiskal, dan minimnya kolaborasi lintas sektor. Kita lebih sibuk membicarakan target emisi atau transisi energi, tapi lupa bahwa green culture juga membutuhkan ekosistem komunikasi yang kuat. Membangun kesadaran masyarakat tidak bisa diserahkan pada lembaga lingkungan saja, ia harus menjadi bagian dari kebijakan budaya dan ekonomi kreatif.

Baca juga : Pemerintah Berantas Balpres, Industri Tekstil Terlindungi

Sebagai bangsa yang kaya warisan budaya, Indonesia punya potensi untuk menjadikan kreativitas lokal sebagai “bahasa hijau” yang khas. Lihat saja pewarna alami dari tumbuhan, tenun organik, seni instalasi dari limbah, atau desain visual bertema keberlanjutan. Semua itu adalah pesan simbolik bahwa kearifan lokal sudah lama mengenal konsep ekologis jauh sebelum istilah green economy populer. Tantangannya adalah bagaimana kita mengemas nilai-nilai itu menjadi cultural narrative yang relevan bagi generasi digital.

Dari perspektif komunikasi, masa depan ekonomi hijau Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan industri kreatif dalam mengubah kesadaran menjadi tindakan. Tidak cukup hanya membuat kampanye “peduli lingkungan”, tapi membangun gaya hidup baru yang membuat keberlanjutan terasa keren, modern, dan membanggakan. Ketika narasi hijau tidak lagi dianggap beban moral, melainkan identitas sosial yang bergengsi, maka transformasi itu akan lebih cepat terjadi 

Karena itu, sudah saatnya pemerintah, akademisi, dan komunitas kreatif membangun aliansi baru: green creative alliance. Kolaborasi ini bukan sekadar ajang promosi, tapi laboratorium ide yang menggabungkan riset, inovasi, dan strategi komunikasi publik untuk memperkuat ekosistem ekonomi hijau berbasis budaya.

Baca juga : BNI Luncurkan ESG Advisory Playbook Pertama di Indonesia

Ekonomi hijau tidak akan tumbuh di atas pabrik dan laboratorium saja, tetapi juga di atas kanvas, panggung, layar, dan kain tenun. Di sanalah masa depan ekonomi Indonesia bisa berakar — kreatif, hijau, dan bermakna. Sebab pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya soal teknologi, tapi juga tentang bagaimana kita berkomunikasi dengan alam dan sesama manusia.

Nurrohman Efendi
Nurrohman Efendi
Pemerhati film dan media, mantan jurnalis TV, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi STIKOM Interstudi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.