Dark/Light Mode

Sinergi Pemerintah Dan Bank Sentral Kokoh

Presiden Prabowo Apresiasi BI Jaga Pertumbuhan Ekonomi RI

Selasa, 2 Desember 2025 06:35 WIB
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan pada PTBI 2025. (Foto: Dok. Bank Indonesia)
Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan pada PTBI 2025. (Foto: Dok. Bank Indonesia)

 Sebelumnya 
Setidaknya, pada prospek ekonomi global 2026-2027, terdapat lima tantangan global perlu terus dicermati dan diwaspadai. Yakni, berlanjutnya kebijakan tarif AS, melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, tingginya utang Pemerintah dan suku bunga negara maju, tingginya kerentanan dan risiko sistem keuangan dunia, serta maraknya uang kripto dan stablecoins pihak swasta. 

“Gejolak global tersebut berdampak negatif ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Maka, diperlukan respons kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan lebih tinggi, serta menjadikan ekonomi nasional tangguh dan mandiri,” paparnya. 

Meski begitu, Perry optimistis, perekonomian Indonesia ke depan akan lebih baik dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berdaya saing. 

Baca juga : BUMN Gercep Bantu Korban Bencana Alam

“BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 berada di kisaran 4,7-5,5 persen dan meningkat lebih tinggi pada 2026 dan 2027, masing-­masing dalam kisaran 4,9-5,7 persen dan 5,1-5,9 persen,” ungkapnya. 

Capaian tersebut, lanjut Perry, didukung oleh konsumsi dan investasi yang meningkat. Serta, kinerja ekspor yang cukup baik di tengah perlambatan ekonomi dunia. 

Selain itu, inflasi diproyeksi akan tetap terjaga rendah, dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027. Kemudian berkat, didukung konsistensi kebijakan moneter, kebijakan fiskal, eratnya sinergi pengendalian inflasi, baik di pusat maupun di daerah, dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. 

Baca juga : Dagang Apa Aja Laku, Pengangguran Tinggi

“Ke depan, mari kita semakin perkuat sinergi. Transformasi struktur ekonomi nasional untuk pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan. Berbasis sumber daya alam dan ekonomi kerakyatan. Bersatu kita tangguh dan mandiri,” tegas Perry. 

Perry menekankan pentingnya sinergi dalam lima area penting. Yakni, memperkuat stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan, meningkatkan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan. Serta mengakselerasi digitalisasi ekonomi-keuangan nasional, dan memperkuat kerja sama ekonomi bilateral dan regional. 

“Sinergi yang baik menghasilkan stabilitas yang dinamis dengan harga terkendali, rupiah stabil, dan ekonomi bergerak cepat akan memberikan manfaat langsung kepada rakyat,” katanya. 

Baca juga : KPK: Ada Kongkalikong Di Pemberian Pembiayaan

Dalam arah kebijakan moneter, Bank Sentral akan menyeimbangkan antara stabilitas dan pertumbuhan dengan fokus pada pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi pasar, dan ekspansi likuiditas moneter untuk mendukung penurunan suku bunga dan pendalaman pasar uang. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.