Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Studi LPEM UI: Mobil Hybrid Lebih Efisien Tekan Emisi Dibanding Listrik
Sabtu, 10 Januari 2026 23:39 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Studi terbaru Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai kendaraan hybrid (Hybrid Electric Vehicle/HEV) lebih efisien dalam menurunkan emisi karbon dibandingkan mobil listrik murni (Battery Electric Vehicle/BEV), terutama jika dihitung dari sisi biaya kebijakan dan kondisi sistem energi nasional saat ini.
Peneliti LPEM UI Riyanto menyampaikan bahwa efisiensi tersebut terlihat ketika penghitungan emisi dilakukan secara well to wheel, yakni dari proses produksi energi hingga kendaraan digunakan di jalan. Dalam skema tersebut, hybrid—khususnya di segmen medium dan small—menunjukkan rasio biaya penurunan emisi yang lebih rendah dibandingkan BEV.
“Jika dihitung dari biaya yang harus dikorbankan pemerintah untuk menurunkan satu gram emisi CO₂, hybrid saat ini masih menjadi opsi paling murah. Pengorbanan fiskal pemerintah untuk hybrid relatif kecil, sementara penurunan emisinya cukup signifikan,” kata Riyanto di Bandung, Jumat (9/1/2026).
Baca juga : PM Albanese: Australia Lebih Kuat Dibanding Teroris Pengecut
LPEM UI mencatat, insentif besar yang diberikan kepada mobil listrik sejak 2021, seperti pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan keringanan PPN, menyebabkan pemerintah kehilangan penerimaan pajak yang cukup besar. Pada 2024 saja, potensi penerimaan pajak dari BEV yang seharusnya mencapai lebih dari Rp7 triliun menyusut menjadi sekitar Rp850 miliar akibat insentif.
Sementara itu, insentif yang diberikan kepada hybrid dinilai lebih proporsional. Hybrid masih dikenakan PPN penuh serta pajak daerah yang setara dengan kendaraan konvensional, sehingga beban fiskal pemerintah lebih terkendali. Dalam kondisi tersebut, rasio penerimaan pajak terhadap insentif hybrid tercatat lebih baik dibandingkan mobil listrik.
Dari sisi lingkungan, program LCEV memang mampu menurunkan emisi kendaraan baru hingga sekitar 9,4 persen pada 2025. Namun secara kumulatif berdasarkan stok kendaraan, penurunan emisi nasional masih terbatas, yakni sekitar 1–1,5 persen. Hal ini disebabkan dominasi kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) yang masih sangat besar di jalan raya.
Baca juga : KPBB Sebut Cukai Karbon Lebih Efektif Dibandingkan Kenaikan PPN
LPEM UI juga menyoroti bahwa efektivitas mobil listrik dalam menurunkan emisi sangat bergantung pada bauran energi pembangkit listrik. Selama pembangkit listrik masih didominasi batu bara, keunggulan emisi BEV menjadi tidak optimal dibandingkan hybrid.
“Mobil listrik akan jauh lebih efektif jika dekarbonisasi sektor kelistrikan berjalan cepat. Tanpa itu, hybrid justru memberikan penurunan emisi yang lebih efisien dalam jangka menengah,” ujar Riyanto.
Berdasarkan simulasi kebijakan, LPEM UI merekomendasikan agar pemerintah mempertimbangkan pemberian insentif tambahan kepada kendaraan hybrid berbasis peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Kebijakan tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan produk domestik bruto (PDB), dengan pengorbanan fiskal yang relatif kecil.
Baca juga : Bos Mitsubishi Soal Insentif Mobil Hybrid 3 Persen: Lebih Tinggi, Lebih Baik
Dengan pendekatan kebijakan yang lebih seimbang antara mobil listrik dan hybrid, LPEM UI menilai transisi energi di sektor transportasi dapat berjalan lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan tanpa menekan industri otomotif nasional maupun penerimaan negara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya