Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan Diresmikan
RI Bersiap Menuju Kemandirian Energi
Selasa, 13 Januari 2026 08:56 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto meresmikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Kepala negara berharap keberadaan kilang tersebut dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
Prabowo tiba di lokasi proyek sekitar pukul 16.30 Wita dengan menaiki kendaraan taktis Maung. Kedatangannya disambut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, serta Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan.
Setibanya di lokasi, Prabowo diajak berkeliling untuk melihat gallery walk proyek RDMP Balikpapan sambil mendengarkan paparan dari Dirut Pertamina terkait proses pembangunan dan pengembangan kilang.
Peresmian dilakukan secara simbolis dengan penekanan tombol oleh Prabowo, didampingi sejumlah menteri dan pejabat, di antaranya Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri, serta Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan.
“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada sore hari ini, Senin 12 Januari 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan infrastruktur energi terintegrasi Pertamina RDMP Balikpapan,” ujar Prabowo.
Dalam sambutannya, Prabowo menyatakan, optimisme bahwa swasembada energi dapat diwujudkan melalui pengoperasian kilang tersebut. Ia menegaskan, Pertamina harus kembali menjalankan peran strategis sebagai agent of development dan agent of modernization.
Baca juga : Prabowo Resmikan RDMP Balikpapan, RI Siap Mandiri Energi
Prabowo menilai peresmian RDMP Balikpapan merupakan momen bersejarah karena jarang terjadi. Ia menyebut, peresmian kilang serupa terakhir dilakukan pada 1994 atau sekitar 32 tahun lalu. “Berarti ini peristiwa yang cukup bersejarah,” ujarnya.
Prabowo juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan proyek tersebut. Menurutnya, RDMP Balikpapan merupakan prestasi penting bagi negara dan bangsa.
Lebih lanjut, Prabowo menekankan, peradaban modern sangat bergantung pada dua hal utama, yakni kemandirian pangan dan energi. Sebuah negara merdeka, kata dia, harus mampu memproduksi kebutuhan pangannya sendiri dan tidak bergantung pada negara lain.
Selain pangan, energi juga menjadi faktor krusial. Prabowo menegaskan, Indonesia harus mampu menghasilkan energi sendiri, mengingat besarnya potensi sumber daya alam yang dimiliki, mulai dari batu bara, minyak dan gas, hingga energi terbarukan.
“Kita punya batu bara, kita bisa menghasilkan energi dari kelapa sawit, menghasilkan biodiesel dan solar. Dari batu bara kita bisa menghasilkan gas, bensin, dan berbagai produk energi lainnya,” jelasnya.
Ia juga meyakini Indonesia mampu memproduksi dimetil eter (DME) sebagai substitusi impor LPG. Selain itu, masih terdapat potensi besar energi panas bumi, tenaga air, dan tenaga surya yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Baca juga : Pakar: RDMP Balikpapan Jadi Titik Balik Kemandirian Energi RI
“Sehingga kita sungguh-sungguh bisa menghasilkan energi kita sendiri dan tidak perlu impor energi dari luar. Ini sasaran kita,” tegas Prabowo.
Dia berharap kemandirian energi dapat tercapai dalam lima tahun masa pemerintahan Kabinet Merah Putih. Namun, jika belum tercapai, ia menilai target tersebut masih realistis dicapai pada tahun keenam atau ketujuh. “Yang penting kita menuju ke sana. Siapa tahu dengan kerja keras bisa lebih cepat,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, RDMP Balikpapan menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp 123 triliun. Proyek ini meningkatkan kapasitas kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari dengan standar Euro V, serta mendukung target Net Zero Emission (NZE).
Bahlil menambahkan, RDMP Balikpapan berpotensi menghemat devisa negara lebih dari Rp 60 triliun per tahun karena mengurangi impor BBM, khususnya solar. Ia meyakini ke depan Indonesia tidak lagi perlu mengimpor solar.
“Kebutuhan nasional sekitar 3,8 juta kiloliter. Dengan B40 hingga B50, Pertamina bisa memproduksi sekitar 5 juta kiloliter. Artinya impor bisa tertutupi, bahkan surplus,” ujar Bahlil.
Sementara itu, Dirut Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan, RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi dari hulu hingga hilir. Proyek diawali dengan pembangunan pipa Senipah sepanjang 78 kilometer sebagai pasokan bahan baku ke kilang.
Baca juga : Ketua Komisi XII Apresiasi RDMP Balikpapan, Perkuat Ketahanan Energi Nasional
“Jantung RDMP ini adalah unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu mengolah residu yang sebelumnya tidak dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi,” katanya.
Simon menambahkan kapasitas kilang meningkat dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari dengan kualitas BBM standar Euro V yang lebih ramah lingkungan. Proyek ini juga terintegrasi dengan Terminal Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter serta empat dermaga untuk distribusi ke wilayah Indonesia bagian timur.
“Ini menjadi tonggak sejarah bangsa dalam meningkatkan kemandirian energi. Kita menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri menuju swasembada energi,” ujarnya.
Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik dan Guru Besar Universitas Trisakti Trubus Rahardiansah menilai, RDMP Balikpapan bukan sekadar proyek infrastruktur energi, melainkan simbol penataan ulang tata kelola sektor migas nasional yang selama bertahun-tahun menghadapi berbagai persoalan.
Menurut Trubus, RDMP Balikpapan kini menjadi faktor kunci dalam menekan impor solar. Selama satu dekade terakhir, Indonesia tercatat selalu mengimpor solar, bahkan sempat mencapai lebih dari lima juta kiloliter per tahun pada periode 2022–2023.
“Kombinasi beroperasinya RDMP Balikpapan dan kebijakan mandatori biodiesel B35 hingga B40 membuka peluang realistis bagi Indonesia untuk lepas dari ketergantungan impor solar mulai 2026,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya