Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Riset Terbaru: PETI Cemari Air dan Biota Pohuwato dengan Merkuri Kronis
Selasa, 20 Januari 2026 11:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah penelitian ilmiah terbaru mengungkap dampak serius aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) terhadap kualitas lingkungan di Kabupaten Pohuwato.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan pencemaran merkuri telah merusak air permukaan, air tanah, serta ekosistem perairan, dan berlangsung dalam jangka panjang, bukan fenomena baru.
Kesimpulan itu salah satunya disampaikan dalam penelitian Novriyal dkk. (2024) yang dimuat dalam International Journal of Humanities, Education and Social Sciences (IJHESS).
Studi tersebut mencatat bahwa limbah hasil pengolahan emas dari aktivitas PETI dibuang langsung ke lingkungan tanpa pengolahan, sehingga memicu degradasi ekosistem sungai, sedimentasi berat, serta penurunan fungsi lahan pertanian di wilayah hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Marisa, Pohuwato.
“Pembuangan limbah hasil pengolahan emas secara langsung ke lingkungan menyebabkan gangguan pada ekosistem sungai dan lahan pertanian di wilayah terdampak,” tulis Novriyal.
Temuan ini diperkuat oleh penelitian Barakati dkk. (2024) yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro.
Baca juga : Panen Melimpah Jelang Nataru, Cabai dan Bawang Merah Turun Harga
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa seluruh segmen DAS di sekitar aktivitas PETI di Kecamatan Buntulia berada dalam kondisi tercemar, dengan tingkat pencemaran bervariasi dari ringan hingga berat.
Sejumlah parameter fisik dan kimia air tercatat melampaui baku mutu lingkungan, menandakan kualitas air tidak lagi memenuhi fungsi ekologis maupun kebutuhan dasar masyarakat.
“Aktivitas penambangan emas tanpa izin menyebabkan penurunan kualitas air permukaan dan air tanah, dengan parameter fisik dan kimia yang melebihi baku mutu,” tulis Barakati.
Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa pencemaran merkuri akibat PETI di Pohuwato telah terdeteksi sejak lama. Penelitian Ramli Utina (2015) dari Universitas Negeri Gorontalo mengidentifikasi paparan merkuri pada jaringan tubuh burung perairan pesisir di Kabupaten Pohuwato.
Temuan ini menjadi indikator biologis bahwa merkuri dari aktivitas PETI telah mencemari lingkungan pesisir dan rantai makanan setidaknya sejak satu dekade lalu.
“Paparan merkuri teridentifikasi pada jaringan tubuh burung perairan pesisir, yang menunjukkan adanya akumulasi logam berat dari limbah penambangan emas tanpa izin di Kabupaten Pohuwato,” tulis Utina.
Baca juga : Persija Menang, Souza Puas dengan Atmosfer Megah di GBK
Rangkaian penelitian sejak 2015 hingga 2024 tersebut menegaskan bahwa dampak pencemaran merkuri bersifat kronis, terakumulasi, dan semakin meluas.
Pencemaran tidak hanya terjadi pada media air dan tanah, tetapi juga telah masuk ke dalam rantai makanan dan ekosistem, yang berisiko menimbulkan kerusakan jangka panjang terhadap keanekaragaman hayati.
Dampak tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar lokasi PETI. Petani melaporkan penurunan produktivitas dan kualitas hasil panen akibat sawah yang tercemar sedimen limbah tambang ilegal, disertai kekhawatiran terhadap keamanan gabah dan beras yang dihasilkan.
Temuan Dinas Lingkungan Hidup Pohuwato yang mendeteksi jejak merkuri pada sedimen persawahan warga memperkuat indikasi tersebut.
Selain itu, masyarakat melaporkan keluhan gangguan kesehatan seperti iritasi dan gatal-gatal pada kulit akibat beraktivitas di lahan dan sungai tercemar.
Kondisi ini memicu kekhawatiran untuk mengonsumsi hasil pertanian dan ikan dari aliran sungai yang terpapar merkuri karena dinilai berisiko tinggi terhadap kesehatan.
Baca juga : MBG Bisa Jadi Penggerak Ekonomi Lokal dan Ketahanan Pangan Nasional
Dalam jangka panjang, paparan merkuri berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari gangguan sistem saraf, gangguan fungsi organ, gangguan reproduksi, hingga penyakit Minamata.
Penurunan kualitas lingkungan juga berdampak pada hilangnya mata pencaharian, menurunnya ketahanan pangan lokal, serta meningkatnya tekanan sosial-ekonomi di wilayah terdampak.
Rangkaian temuan ilmiah ini menegaskan bahwa pencemaran merkuri akibat aktivitas PETI di Pohuwato merupakan persoalan serius yang telah berlangsung lama dan kini semakin diperkuat oleh hasil penelitian terbaru, sehingga memerlukan penanganan menyeluruh dan berkelanjutan untuk mencegah dampak lanjutan yang lebih luas.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya