Dark/Light Mode

Bangun Pabrik CGL 2, Tata Metal Perkuat TKDN Dan Hilirisasi Baja

Senin, 26 Januari 2026 20:24 WIB
Foto: Ist
Foto: Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Tata Metal Lestari memperkuat komitmen terhadap penggunaan produk dalam negeri melalui Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dalam pengembangan industri baja nasional.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui pembangunan fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Purwakarta, Jawa Barat, yang menggunakan mayoritas bahan baku baja produksi dalam negeri.

VP of Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi mengatakan, rata-rata TKDN produk Tata Metal berada di kisaran 62–64 persen, termasuk yang tertinggi di industri baja nasional.

“Kami memfokuskan penggunaan baja dalam negeri sebagai bahan baku utama. Sekitar 80–85 persen bahan baku baja kami berasal dari Krakatau Steel dan produsen baja nasional lainnya,” kata Stephanus saat peletakan batu pertama (ground breaking) CGL 2, di Purwakarta, Jawa Barat, Senin (26/1/2026).

Ia menjelaskan, kebijakan tersebut sejalan dengan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) yang didorong pemerintah, sekaligus menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor baja.

Baca juga : Tekan Emisi Dan Hemat Energi, LPCK Perkuat Kawasan Industri Berkelanjutan

Pembangunan CGL 2 merupakan bagian dari peta jalan perusahaan untuk mencapai kapasitas terpasang hingga 2,5 juta ton baja lapis secara bertahap dalam 10 tahun ke depan. Fasilitas baru ini dirancang memproduksi 250 ribu ton baja lapis per tahun, melengkapi kapasitas produksi CGL 1 di Cikarang, Bekasi, sebesar 500 ribu ton per tahun.

Selain memenuhi kebutuhan pasar domestik, produk baja lapis Tata Metal juga telah menembus pasar ekspor ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa yang menerapkan standar kualitas tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa produk berbasis TKDN tinggi mampu bersaing di pasar global.

Dalam pengembangan fasilitas CGL 2, Tata Metal menggandeng Tenova, perusahaan teknologi asal Italia, untuk memastikan penerapan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan. Investasi ini sekaligus mendukung transformasi menuju industri hijau melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi.

“Investasi ini menjadi bukti keseriusan kami dalam mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net zero emission melalui efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi,” ujar Stephanus.

Ia menambahkan, proyek CGL 2 menjadi yang pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium, sehingga umur pakai baja dapat meningkat hingga empat kali.

Baca juga : Investasi Minerba Capai Rp 112 T, Perkuat Hilirisasi SDA

Keberadaan fasilitas CGL 2 di Purwakarta diharapkan memberikan dampak berganda bagi perekonomian daerah, termasuk penciptaan sekitar 350 lapangan kerja baru serta penguatan ekonomi lokal. Proyek ini merupakan bagian dari komitmen investasi lanjutan perseroan senilai total Rp1,5 triliun.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan industri baja nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan seperti permesinan, otomotif, galangan kapal, dan sektor energi.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta penguatan industri turunan,” kata Agus.

Kementerian Perindustrian mencatat, dalam lima tahun terakhir produksi baja nasional meningkat hampir 98,5 persen dibandingkan 2019 yang sebesar 8,5 juta ton. Peningkatan tersebut mencerminkan kapasitas industri baja nasional yang terus tumbuh dan semakin kompetitif.

Untuk memacu kinerja industri baja, Kemenperin mengoptimalkan sejumlah kebijakan strategis, antara lain penerapan tindakan pengamanan perdagangan (trade remedies), pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pemberian fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), pengutamaan penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.

Baca juga : Danantara Perkuat Komitmen Pulihkan Area Bencana

“Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan utilisasi industri baja nasional secara berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing produk baja dalam negeri di pasar domestik maupun ekspor,” ujar Agus.

Kemenperin mengapresiasi PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmennya dalam memperkuat industri baja nasional melalui investasi berkelanjutan. Peningkatan kapasitas produksi melalui pembangunan fasilitas CGL 2 dinilai sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat kemandirian industri dan mendukung hilirisasi.

Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian Dodiet Prasetyo, mewakili Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Setia Diarta, menilai investasi PT Tata Metal Lestari akan memperkuat struktur industri baja dari hulu hingga hilir.

“Penguatan TKDN menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan industri nasional,” ujar Dodiet.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.