Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Industri Tekstil Tumbuh 4,37 Persen di Q4 2025, Sinyal Kuat Pemulihan UMKM
Kamis, 5 Februari 2026 18:03 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025 yang menunjukkan sinyal positif pada sektor industri manufaktur.
Salah satu capaian yang menonjol adalah pemulihan subsektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang mencatatkan pertumbuhan 4,37 persen secara tahunan (year-on-year) pada Triwulan IV-2025.
Pertumbuhan di tengah tekanan ketidakpastian global ini dinilai sebagai bukti kuatnya fondasi industri tekstil nasional.
Penopang utama kinerja ini adalah rangkaian kebijakan pemerintah yang fokus pada penguatan pengawasan impor, penataan perizinan, hingga pemberian insentif fiskal bagi industri padat karya.
Baca juga : Ekonomi Triwulan IV-2025 Tumbuh 5,39 Persen, Tertinggi Pasca Pandemi Covid-19
Iqbal dari Aliansi Masyarakat Tekstil Indonesia (AMKI) mengapresiasi konsistensi kementerian terkait, seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Keuangan dalam menjaga keberlangsungan sektor strategis ini.
Kebijakan pro-industri tersebut terbukti mampu menjaga stabilitas produksi serta mempertahankan penyerapan tenaga kerja.
“Ini bukti nyata bahwa keberpihakan terhadap industri strategis benar-benar dijalankan, bukan sekadar wacana,” ujar Iqbal dalam keterangan tertulisnya.
Permintaan Domestik
Selain intervensi kebijakan, geliat industri TPT di penghujung tahun didorong oleh kenaikan permintaan domestik.
Baca juga : Ekonomi RI Dipuji IMF
Musim belanja akhir tahun untuk kebutuhan fesyen dan tekstil rumah tangga memicu pabrikan meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap guna menyongsong semester pertama 2026.
Namun, AMKI memberikan catatan bahwa tantangan belum sepenuhnya usai. Fluktuasi nilai tukar dan persaingan harga dengan produk impor masih menghantui pasar.
Iqbal menegaskan pentingnya data yang akurat dalam memotret kondisi industri agar tidak tercipta narasi negatif yang mampu merusak iklim investasi.
“Kepentingan nasional harus diutamakan di atas kepentingan kelompok. Industri tekstil ini menyerap jutaan tenaga kerja dan sangat sensitif terhadap sentimen,” tegasnya.
Baca juga : IHSG Tembus Rekor Tertinggi 9.095, Ekonom: Sinyal Ekonomi RI Kian Perkasa
Ke depan, kesinambungan perlindungan industri dari hulu ke hilir menjadi kunci. Modernisasi mesin dan efisiensi energi diharapkan dapat memperkuat daya saing sektor kriya dan sandang nasional di pasar internasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya