Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Rupiah Dekati 17.000 Per Dolar, Gubernur BI Anggap Kemurahan
Jumat, 20 Februari 2026 07:40 WIB
Sebelumnya
“Kalau kita lihat, suplai-nya makin lama makin bertambah, tapi memang tentu masih terus kita butuhkan upaya untuk penambahan suplai dari CNY di pasar valas kita,” ujarnya.
Dari sisi arus modal masuk (inflow), BI mencatat per 18 Februari 2026 terdapat aliran dana sebesar Rp 31 triliun ke instrumen SRBI dan sekitar Rp 530 miliar ke SBN. Secara keseluruhan, inflow year-to-date telah mencapai sekitar 1,6 miliar dolar AS. “Ini sangat membantu sekali untuk stabilitas dari rupiah itu sendiri,” ungkap Destry.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen global. Termasuk perkembangan isu geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat terkait penyelesaian perselisihan nuklir.
Baca juga : Usut Dugaan Korupsi POME, Kejagung Sita Enam Mobil
Menurut Ibrahim, pembicaraan tersebut dipantau ketat pasar energi mengingat Iran merupakan produsen minyak utama dan berada di jalur strategis Selat Hormuz.
Selain itu, negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi Amerika Serikat di Jenewa juga menjadi perhatian pasar. Presiden AS Donald Trump bahkan mendesak Kyiv untuk segera mencapai kesepakatan guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung empat tahun.
Di dalam negeri, Ibrahim menilai defisit APBN juga menjadi sorotan. Jika pengelolaan fiskal tidak dilakukan secara hati-hati, ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural.
Baca juga : Ketua PPP Jabar Daftarkan Gugatan Di PN Jakarta Pusat
“Strategi defisit tidak otomatis mampu membalikkan kondisi ekonomi dalam satu tahun. Pertumbuhan berkelanjutan tetap ditentukan oleh investasi riil, kepastian regulasi, dan produktivitas tenaga kerja,” ujarnya.
Ketika sektor swasta masih berhati-hati, pemerintah menjadi penopang utama permintaan agregat. Akibatnya, APBN terus berperan sebagai shock absorber, sementara basis penerimaan negara belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan beban bunga.
Apalagi jika penerimaan negara belum kuat dan keseimbangan primer masih defisit. Setiap guncangan eksternal, kenaikan yield global, pelemahan rupiah, hingga arus modal keluar—akan langsung menekan kas negara melalui beban bunga dan kebutuhan pembiayaan baru.
Baca juga : Awas, Terorisme Bergerak Kian Lincah Di Ruang Digital
“Artinya, secara headline defisit terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu,” pungkas Ibrahim. [MEN]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya