Dark/Light Mode

Penyebab Pertumbuhan Kredit Cuma Single Digit

Likuditas Bank Melimpah, Tapi Pengusaha Wait & See

Sabtu, 21 Februari 2026 06:35 WIB
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi (kanan) saat menerima cendera mata dari Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi usai menghadiri acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Foto: Dok. BRI)
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi (kanan) saat menerima cendera mata dari Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi usai menghadiri acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (19/2/2026). (Foto: Dok. BRI)

 Sebelumnya 
Sektor industri manufaktur, yang berkontribusi hampir 20 persen terhadap PDB sangat menentukan kebutuhan modal kerja dan investasi. 

Di satu sisi, perdagangan sangat bergantung pada daya beli masyarakat, di mana ketika konsumsi melemah, perputaran stok melambat dan permintaan kredit ikut tertahan. 

Namun di sisi lain, sektor pertanian sebagai basis penyerapan tenaga kerja terbesar, memiliki keterkaitan langsung dengan segmen mikro dan UMKM, sehingga tekanan di sektor ini cepat tercermin pada permintaan kredit di level usaha kecil. 

Dikatakan Hery, kondisi tersebut menunjukkan, bahwa sensitivitas pertumbuhan kredit terhadap siklus ekonomi masih cukup tinggi. Sejalan dengan struktur kredit nasional yang didominasi sektor padat karya, seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian. 

Baca juga : Ribuan Warga Palestina Daftar Jadi Polisi Di Gaza

“Moderasi kredit saat ini bukan semata karena faktor likuiditas. Walaupun sudah diguyur dana Pemerintah Rp 200 triliun, sebagai likuiditas tambahan, tetapi kondisi ini sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi,” terang mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini. 

Ke depan, lanjutnya, diversifikasi dan peningkatan pembiayaan di sektor bernilai tambah tinggi menjadi kunci untuk mengurangi sensitivitas siklus. 

Hery menilai, kebijakan fiskal dan moneter saat ini pun berada pada arah yang kredibel dan progrowth, sehingga mayoritas pelaku usaha menunjukkan optimisme terhadap prospek ekonomi. 

Namun demikian, optimisme tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam percepatan ekspansi riil di tingkat perusahaan. 

Baca juga : DKI Gelar Mudik Gratis, Lusa Buka Pendaftaran

Sejumlah pelaku usaha masih bersikap hati-hati dan belum berada pada level keyakinan yang cukup kuat, untuk mempercepat investasi maupun ekspansi. 

“Ke depan, fokus perlu bergeser dari narasi optimisme menuju akselerasi implementasi yang benar-benar dirasakan oleh dunia usaha,” saran Hery. 

Di kesempatan yang sama, Pejabat Sementara (Pjs) Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengaku tetap optimistis sektor jasa keuangan terus mengalami pertumbuhan. 

Terbukti, sejak Juni 2021, sektor jasa keuangan tercatat mengalami pertumbuhan yang tinggi sebesar 7,92 persen yoy di kuartal IV-2025, atau mencatat laju tertinggi. 

Baca juga : Davina Karamoy, Sapa Ardhito Pake Lirik Lagu Romantis

“Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92 persen secara tahunan pada periode yang sama, yang merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II-2021,” kata Kiki-sapaan Friderica. 

Dia juga meyakini, tren positif kinerja sektor jasa keuangan pada 2026 bisa berlanjut, dengan mencermati berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, serta kebijakan-kebijakan yang diambil. 

“Untuk 2026, kredit perbankan diproyeksikan tumbuh sebesar 10 persen hingga 12 persen, didukung pertumbuhan DPK sebesar 7 persen hingga 9 persen,” pungkas Kiki. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.