Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Akuntansi Jadi Kompas Pengelolaan Keuangan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Senin, 23 Februari 2026 23:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dosen Akuntansi PPM School of Management, Bernadet Krisma Suryani, menekankan pentingnya prinsip akuntansi dalam mengelola keuangan pribadi dan usaha di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Dalam satu bulan terakhir, ekonomi Indonesia menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah akibat arus keluar modal hingga ketidakpastian global.
Bank Indonesia pun mempertahankan suku bunga di kisaran 4,75 persen demi menjaga stabilitas. Sementara itu, inflasi tahunan Januari 2026 tercatat sekitar 3,55 persen, tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.
Menurut Bernadet, kondisi tersebut berdampak langsung pada masyarakat, seperti kenaikan harga kebutuhan pokok, pemutusan hubungan kerja, dan perlambatan aktivitas bisnis.
Baca juga : Vintage Sounds Jadi Ajang Nostalgia dan Sinyal Kebangkitan Industri Live Show
Dalam situasi seperti ini, pengelolaan keuangan yang terstruktur menjadi kunci bertahan.
“Mayoritas orang tahu uang itu penting, tetapi tidak semua memahami cara mengelolanya secara terstruktur. Di sinilah prinsip-prinsip akuntansi memegang peran penting,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).
Ia menjelaskan, akuntansi berfungsi sebagai proses mencatat, mengelompokkan, dan menganalisis transaksi keuangan.
Dalam masa kritis, akuntansi berperan sebagai kompas yang membantu individu dan organisasi mengambil keputusan yang tepat.
Baca juga : Hasil Survei Kepuasan Publik Tegaskan Dukungan terhadap Kebijakan Prabowo
Bernadet menekankan pentingnya pencatatan transaksi harian menggunakan catatan sederhana, seperti Excel atau aplikasi keuangan. Pencatatan ini bertujuan mengetahui arus kas secara nyata dan real time, bukan sekadar perkiraan.
Selain itu, pengeluaran perlu dikelompokkan berdasarkan prioritas, yaitu kebutuhan pokok, kebutuhan penting, dan kebutuhan tambahan.
Pada masa krisis, fokus utama harus diberikan pada pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan, tempat tinggal, listrik, dan kesehatan.
Langkah berikutnya adalah menyusun anggaran bulanan sebagai batas pengeluaran agar tidak melampaui kemampuan keuangan.
Baca juga : Prospek Properti 2026: Sektor Perumahan Menguat di Tengah Insentif Pajak
Disiplin terhadap anggaran dinilai penting untuk menjaga kondisi keuangan jangka pendek dan jangka panjang.
Bernadet juga menyarankan evaluasi berkala untuk menilai kesesuaian pengeluaran dengan anggaran, peluang penghematan, serta potensi penambahan pemasukan. Evaluasi rutin membantu pengambilan keputusan yang rasional dan berbasis data.
Menurutnya, penerapan prinsip akuntansi seperti kehati-hatian, konsistensi pencatatan, dan pemisahan keuangan pribadi dan usaha dapat membantu individu mengurangi pengeluaran tidak penting, menentukan prioritas pembayaran, menghindari utang berisiko, serta membangun dana darurat.
“Masa kritis tidak selalu bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa dikelola dengan pengelolaan keuangan yang baik. Akuntansi bukan sekadar ilmu angka, melainkan alat menjaga stabilitas dan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya