Dark/Light Mode

ASMINDO Perkuat Kemitraan Kayu AS, Yakin Naikkan Ekspor Furnitur

Kamis, 26 Februari 2026 17:31 WIB
Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat (kiri) berbincang dengan Presiden Prabowo Subianto dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat (kiri) berbincang dengan Presiden Prabowo Subianto dan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) berkomitmen memperkuat kemitraan dagang berbasis keberlanjutan dengan eksportir kayu keras Amerika Serikat (AS) yang tergabung dalam American Hardwood Export Council (AHEC). Langkah ini merupakan tindak lanjut penandatanganan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan AS, 19 Februari 2026.

Komitmen tersebut tetap dijalankan meski Mahkamah Agung (MA) AS kemudian membatalkan kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump. ASMINDO yakin, kerja sama ini memiliki nilai strategis jangka panjang bagi penguatan rantai pasok global industri furnitur dan kerajinan berbasis kayu kedua negara.

Ketua Umum ASMINDO Dedy Rochimat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah atas keberhasilan merampungkan perjanjian ART dengan AS. Menurutnya, kesepakatan itu menjadi langkah penting dalam membuka akses perdagangan yang lebih kompetitif bagi produk furnitur nasional di pasar AS sekaligus memperkuat hubungan dagang kedua negara.

Dedy menegaskan, kemitraan dengan anggota AHEC berorientasi pada peningkatan daya saing dan volume ekspor furnitur serta kerajinan Indonesia tanpa menggeser peran kayu domestik sebagai bahan baku utama industri nasional. Pemanfaatan American hardwood diposisikan sebagai alternatif bahan baku berkualitas untuk memperkaya variasi material, meningkatkan kualitas produk, serta memenuhi preferensi desain dan standar pasar internasional bernilai tinggi.

Baca juga : Perkuat Kemitraan, IHH Healthcare Malaysia Tingkatkan Layanan untuk Pasien

“Kolaborasi ini berbasis prinsip keberlanjutan dan kepatuhan legal, serta bertujuan memperkuat rantai nilai Indonesia–Amerika, bukan menggantikan kayu domestik. Yang diimpor adalah bahan baku, sementara nilai tambah manufaktur, desain, dan ekspor tetap dilakukan di Indonesia,” ujar Dedy, dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (26/2/2026).

Ia menambahkan, bahan baku tersebut diyakini dapat dimanfaatkan industri kecil dan menengah (IKM) serta industri nasional guna meningkatkan daya saing.

Selama ini, belanja industri furnitur Indonesia terhadap American hardwood diperkirakan mencapai sekitar 30 juta dolar AS per tahun. Dengan adanya ART yang diharapkan mampu mendorong peningkatan ekspor furnitur Indonesia ke pasar AS, kebutuhan bahan baku kayu keras Amerika diproyeksikan meningkat hingga sekitar 100 juta dolar AS dalam beberapa tahun mendatang.

Peningkatan tersebut dinilai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan produksi furnitur ekspor Indonesia yang memadukan kayu lokal dan kayu keras impor premium untuk segmen pasar menengah atas dan premium.

Baca juga : Perkuat Kemitraan Strategis, BSN Lanjutkan Developer Gathering di Bandung

“Dengan demikian tercipta hubungan dagang yang saling menguntungkan atau win-win solution antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ekspor furnitur Indonesia meningkat, kapasitas manufaktur nasional menguat, dan pada saat yang sama permintaan terhadap kayu keras Amerika juga tumbuh,” jelasnya.

Melalui kemitraan ini, kedua pihak menjajaki penggunaan kayu keras AS untuk berbagai kategori produk, seperti solid wood furniture, komponen interior, serta kerajinan kayu berorientasi ekspor ke pasar AS, Eropa, dan segmen premium domestik.

Kerja sama juga mencakup pertukaran informasi spesies dan standar kualitas hardwood Amerika, dialog teknis terkait pengolahan dan keberlanjutan, serta fasilitasi jejaring bisnis antara eksportir AS dan produsen furnitur anggota ASMINDO di Indonesia.

Tahap awal implementasi difokuskan pada penjajakan pasar, peningkatan pemahaman teknis material, serta pembentukan fondasi rantai pasok jangka panjang yang transparan, legal, dan berkelanjutan.

Baca juga : BPJPH dan USDA Perkuat Kemitraan Bilateral dalam Perdagangan Halal

ASMINDO menilai, langkah ini sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai basis produksi furnitur dunia, tetapi juga sebagai pusat manufaktur furnitur bernilai tambah tinggi yang terintegrasi dalam jaringan pasok global.

“Indonesia tidak hanya ingin menjadi basis produksi, tetapi menjadi pusat manufaktur bernilai tambah tinggi yang berbasis keberlanjutan dan kemitraan global,” tutup Dedy Rochimat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.