Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Cadangan Devisa Memadai & Neraca Perdagangan Surplus
Indikator Ekonomi RI Tunjukkan Perbaikan
Rabu, 8 April 2026 06:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng) meningkatkan resiko ekonomi global. Meski demikian, perekonomian Indonesia menunjukkan perbaikan.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengakui, tensi geopolitik di Timteng turut meningkatkan risiko global. Hal ini terlihat dari kenaikan harga energi dan volatilitas pasar keuangan dunia. Namun, dia memastikan, stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 tetap terjaga.
“Ekonomi global sempat menunjukkan penguatan, tetapi kini terkoreksi akibat eskalasi konflik di Timteng,” kata Kiki-sapaan Friderica dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Maret 2026 secara virtual, Senin (6/4/2026).
Menurut Kiki, tingginya ketidakpastian global dan tekanan harga energi mempersempit ruang kebijakan moneter bagi Bank Sentral global.
Baca juga : Berlaku 1 Juli 2026, B50 Bakal Tekan Impor BBM
“Hal ini sekaligus kembali memunculkan ekspektasi high for longer,” ucapnya.
Mantan bos Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) ini mencontohkan ekonomi Amerika Serikat (AS), mulai menghadapi tekanan di tengah tingginya inflasi dan angka pengangguran. Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih mempertahankan suku bunga acuan meski pasar semula memprediksi sebaliknya.
Kiki meyakini, tensi geopolitik yang memanas sejak akhir Februari 2026 telah mengganggu jalur pemulihan ekonomi global secara material.
Bahkan, imbuhnya, Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam interim Economic Outlook Maret 2026 memproyeksikan, ekonomi global sebelumnya berada pada jalur penguatan sebelum konflik, namun kini mengalami koreksi akibat eskalasi di Timteng.
Baca juga : ASN Dipantau Via HP, Yang Ke Cafe Disanksi
Karena itu, Kiki membeberkan, beberapa poin utama yang menjadi perhatian OJK. Antara lain kenaikan harga minyak dunia dan komoditas energi lainnya.
Lalu, potensi kenaikan harga barang yang berujung pada penurunan daya beli masyarakat. Selain itu, banyak lembaga internasional mulai memangkas target pertumbuhan ekonomi global akibat faktor eksternal.
“Konflik AS dan Iran membuat ekspektasi pasar bergeser kepada skenario tidak adanya pemangkasan suku bunga pada 2026,” ujarnya.
Sementara, ekonomi China mencatat kinerja di atas ekspektasi. Hal itu didorong oleh peningkatan permintaan, penawaran, serta dukungan stimulus sektor keuangan.
Baca juga : PSG Vs Liverpool, Alarm Bahaya Di Paris
Meski begitu, China tetap menurunkan target pertumbuhan ekonominya. Ini merupakan respons terhadap tantangan struktural dan ketidakpastian global.
Di dalam negeri, inflasi inti pada Maret 2026 mengalami penurunan. Aktivitas konsumsi juga tetap kuat, terlihat dari pertumbuhan penjualan ritel yang diperkirakan mencapai 6,89 persen secara tahunan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya