Dark/Light Mode

Cadangan Devisa Memadai & Neraca Perdagangan Surplus

Indikator Ekonomi RI Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 8 April 2026 06:35 WIB
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)

 Sebelumnya 
“Beberapa indikator ekonomi Indonesia juga menunjukkan perbaikan. Cadangan devisa berada pada level memadai dan neraca perdagangan masih mencatatkan surplus,” ungkapnya. 

Meski begitu, Kiki mengingatkan konflik antara Iran dan AS serta Israel berpotensi menimbulkan risiko lanjutan. 

“Risiko tersebut dapat mempengaruhi sektor keuangan melalui pasar, harga energi, dan jalur perdagangan,” ujarnya. 

Baca juga : Berlaku 1 Juli 2026, B50 Bakal Tekan Impor BBM

Di kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, industri perbankan menunjukkan pertumbuhan positif pada Februari 2026. 

Secara tahunan, kredit tumbuh sebesar 9,37 persen dengan total mencapai Rp 8.559 triliun. Dian merinci, pada Februari 2026 kredit tumbuh sebesar 9,37 persen (year on year/yoy). 

Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan paling tinggi dibandingkan jenis lainnya. Dian menyebut angkanya mencapai 20,72 persen secara tahunan, menunjukkan meningkatnya aktivitas investasi. 

Baca juga : ASN Dipantau Via HP, Yang Ke Cafe Disanksi

Sementara, dari sisi kategori debitur, kredit korporasi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar. Pertumbuhan kredit korporasi tercatat sebesar 14,74 persen secara tahunan. 

Dari sisi kepemilikan bank, ia menyebut kredit yang disalurkan oleh bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengalami pertumbuhan tertinggi, yaitu mencapai 12,78 persen secara tahunan. 

“OJK mencatat stabilitas sektor jasa keuangan nasional hingga Maret 2026 tetap terjaga. Kondisi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” terang Dian. 

Baca juga : PSG Vs Liverpool, Alarm Bahaya Di Paris

Namun, Kiki meminta, para pelaku industri keuangan untuk tidak lengah, meskipun permodalan perbankan dan lembaga keuangan saat ini masih kuat dengan likuiditas memadai. 

“Sebagai langkah antisipatif, kami mendorong lembaga jasa keuangan melakukan asesmen lanjutan secara forward-looking, memperkuat manajemen risiko, mencermati intensif kinerja debitur, serta menjaga kecukupan likuiditas dan permodalan,” imbaunya. 

Menurut Kiki, OJK berkomitmen terus mengawal stabilitas sektor jasa keuangan agar tetap menjadi mesin penggerak ekonomi nasional, bahkan di tengah ketidakpastian global yang dipicu oleh krisis energi dan konflik internasional. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.