Dark/Light Mode

Investor Global Percaya Fundamental Ekonomi RI Di Tengah Konflik Timur Tengah

Selasa, 14 April 2026 12:55 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Dok. Kemenko Perekonomian)
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Dok. Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan investor global tetap menaruh kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah konflik Timur Tengah dan tekanan global.

Menurut Haryo, kepercayaan tersebut tercermin dari dua pengakuan internasional dalam waktu berdekatan, yakni proyeksi Asian Development Bank (ADB) dan penilaian lembaga indeks global FTSE Russell.

ADB memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil sebesar 5,2 persen pada 2026 dan 2027, meningkat dari realisasi 5,1 persen pada 2025.

Sementara itu, FTSE Russell pada 7 April 2026 mempertahankan status pasar modal Indonesia sebagai Secondary Emerging Market. Indonesia juga tidak dimasukkan dalam daftar pemantauan penurunan status.

Baca juga : Airlangga: Ekonomi RI Tetap Kuat Di Tengah Gejolak Global, Risiko Resesi Rendah

“Kedua indikator ini menegaskan pandangan pelaku pasar global terhadap ketangguhan ekonomi Indonesia,” ujar Haryo dalam keterangan resminya, Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, di tengah ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, volatilitas harga energi, dan ketegangan perdagangan, ekonomi Indonesia tetap ditopang oleh permintaan domestik yang kuat.

Selain itu, inflasi yang terkendali di kisaran 2,5 persen serta kebijakan moneter yang terkalibrasi menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas.

Haryo menambahkan, momentum pertumbuhan pada awal 2026 juga didorong konsumsi rumah tangga, peningkatan produktivitas pertanian, serta efek musiman Ramadan dan Idulfitri.

Baca juga : Dubes UEA Abdulla Salem AlDhaheri Jamin Keamanan WNI Selama Konflik Timteng

“Arus masuk penanaman modal asing yang solid turut membantu menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pembiayaan eksternal,” jelasnya.

Dari sisi pasar keuangan, Haryo menyebut FTSE Russell mengakui kemajuan reformasi struktural pasar modal Indonesia, termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan perluasan klasifikasi investor.

Pemerintah, lanjutnya, memandang pengakuan tersebut sebagai validasi atas kebijakan makroekonomi yang selama ini ditempuh secara konsisten.

“Kestabilan fundamental domestik menjadi jangkar dalam menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” tegasnya.

Baca juga : Ekonom Soroti Dampak Konflik Timur Tengah Terhadap Ekonomi RI

Ke depan, pemerintah akan terus mengakselerasi reformasi, termasuk menghadapi review FTSE Russell pada Juni 2026 dan MSCI pada Mei 2026, guna memastikan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.