Dark/Light Mode

Wujudkan Kedaulatan Energi, FSPPB Siap Kawal Proyek Hilirisasi Prabowo

Rabu, 29 April 2026 19:24 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Dok. FSPPB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato saat meresmikan groundbreaking 13 proyek hilirisasi di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Dok. FSPPB

RM.id  Rakyat Merdeka - Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyatakan siap mengawal proyek hilirisasi nasional yang digulirkan pemerintah. Targetnya jelas, kedaulatan energi harus benar-benar terwujud.

Komitmen itu terlihat saat Presiden Prabowo Subianto memimpin groundbreaking 13 proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Presiden FSPPB Arie Gumelar hadir langsung di lokasi.

Arie menegaskan, keterlibatan serikat pekerja bukan sekadar simbol. FSPPB ingin memastikan proyek berjalan sesuai amanat konstitusi.

“Ini bukan sekadar investasi. Ini soal kedaulatan energi. Harus dikelola bangsa sendiri dan hasilnya kembali ke rakyat,” tegas Arie.

Baca juga : Akan Dibangun Di 13 Lokasi, Prabowo Pacu Hilirisasi

Di sela acara, Prabowo menyapa Arie. Momen itu mencerminkan kedekatan pemerintah dengan elemen pekerja dalam menjaga sektor energi strategis. Keduanya juga pernah bertemu saat peresmian RDMP Kilang Balikpapan pada Januari lalu.

FSPPB memberi perhatian khusus pada pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai dan Cilacap. Kapasitasnya mencapai 62 ribu barel per hari.

Menurut Arie, proyek ini menjadi langkah konkret menekan impor bahan bakar.

“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Hilirisasi harus jadi jawaban agar kita berdiri di kaki sendiri,” ujarnya.

Baca juga : Stok Bahan Baku Aman, Wamenperin Dorong Hilirisasi Plastik

Selain itu, pembangunan terminal penyimpanan BBM di Palaran, Biak, dan Maumere dengan kapasitas total 153 ribu kiloliter dinilai strategis. Infrastruktur ini diharapkan memperkuat distribusi energi hingga wilayah terpencil.

“Energi harus dirasakan merata. Dari kota sampai daerah terluar, aksesnya harus adil,” kata Arie.

FSPPB menegaskan akan terus mengawal setiap tahapan proyek. Mereka ingin memastikan Pertamina tetap menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional.

“Hilirisasi ini momentum besar. Jangan sampai arah kebijakan melenceng atau justru menguntungkan pihak luar,” ucapnya.

Baca juga : DPR Dukung Kebijakan Energi, Kelas Menengah Diminta Tahan Diri

Selain sektor migas, proyek tahap II juga mencakup pengolahan batu bara menjadi DME di Tanjung Enim, hilirisasi tembaga dan emas di Gresik, serta pengolahan hasil pertanian di Maluku Tengah.

FSPPB menilai rangkaian proyek ini menjadi langkah penting menuju transformasi ekonomi. Indonesia diarahkan keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah menuju negara industri yang lebih mandiri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.