Dark/Light Mode

Dipercaya Investor Asing & Lokal

Ekonomi RI Keluar Dari Kutukan Pertumbuhan 5 Persen

Jumat, 8 Mei 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti sidang aduan kanal Debottlenecking Satgas P3M-PPE (Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi) di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (Foto: Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengikuti sidang aduan kanal Debottlenecking Satgas P3M-PPE (Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi) di Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (7/5/2026). (Foto: Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc)

 Sebelumnya 
“Market masih percaya kondisi fiskal kita. Memang yield agak naik, tapi di Amerika juga naik. Ini karena dampak perang dan uncertainty meningkat, itu biasa,” katanya. 

Ia menjelaskan, apabila kondisi fiskal Indonesia memburuk, maka yield SBN akan melonjak drastis seperti yang pernah terjadi pada masa krisis global 2008 maupun gejolak ekonomi 2018. “Kalau yield itu masih bisa terjaga seperti ini, artinya investor domestik maupun global masih percaya dengan kondisi fiskal kita,” ujar Juda. 

Ia menambahkan, selisih imbal hasil atau yield spread SBN terhadap US Treasury juga relatif rendah dibandingkan sejumlah negara berkembang lainnya seperti Filipina, India, Afrika Selatan, Meksiko hingga Brazil. 

“Yield spread kita terhadap US Treasury itu juga relatif rendah, 237 dibandingkan negara-negara lain. Kita masih bisa menjaga spread dan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fiskal kita masih cukup luas,” katanya. 

Baca juga : Tiba Di Manila, Prabowo Akan Bicara Ketahanan Energi

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai, keberhasilan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak lepas dari percepatan belanja pemerintah dan efektivitas program prioritas nasional sejak awal tahun. Investasi yang mulai bergerak sejak awal tahun turut menopang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. 

“Belakangan ini, kita berhasil membuka pasar ekspor baru. Walaupun baru mulai, sudah terlihat dampaknya, termasuk terhadap investasi yang masuk,” ujar Anindya. 

Menurut dia, tren investasi juga mulai meluas ke proyek-proyek skala menengah yang berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah. 

Kadin memandang penting penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah tertentu, tetapi lebih merata di seluruh Indonesia. 

Baca juga : Trump Klaim Iran Setuju Soal Nuklir, Perang Di Selat Hormuz Mendingin

Sementara itu, Ekonom Universitas Gadjah Mada Eddy Junarsin menilai, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen merupakan capaian yang sangat baik di tengah kondisi global yang masih penuh tekanan. “Itu sudah hal yang luar biasa,” kata Eddy. 

Meski demikian, ia mengingatkan pemerintah tetap memperhatikan kualitas pertumbuhan ekonomi agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata, baik di tingkat nasional maupun daerah. 

Untuk diketahui, dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung tertahan di kisaran 5 persen. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,02 persen pada 2016, naik menjadi 5,07 persen pada 2017, 5,17 persen pada 2018, dan kembali melambat ke level 5,02 persen pada 2019. 

Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, ekonomi Indonesia bahkan terkontraksi hingga minus 2,07 persen. Namun, perekonomian nasional mulai pulih dengan pertumbuhan 3,69 persen pada 2021, kemudian meningkat menjadi 5,31 persen pada 2022, 5,05 persen pada 2023, 5,03 persen pada 2024, dan 5,11 persen pada 2025. 

Baca juga : 10 Titik Layanan Jemaah Siaga 24 Jam Di Masjid Al-Haram

Sebelumnya, Indonesia pernah mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Pertumbuhan ekonomi saat itu mencapai 6,3 persen pada 2007, 6,1 persen pada 2008, 6,1 persen pada 2010, dan menembus 6,5 persen pada 2011. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.