Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dorong Industrialisasi Mineral, METCONNEX 2026 Angkat Isu Hilirisasi dan AI
Sabtu, 9 Mei 2026 09:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Forum industri pertambangan dan metalurgi METCONNEX 2026 bakal digelar di Jakarta International Convention Center (JICC), pada 11 Mei –13 Mei 2026 dengan mengangkat isu hilirisasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelegence/AI), digitalisasi.
Hingga ekonomi sirkular dalam industri tambang nasional. Ajang tersebut mempertemukan pelaku industri, akademisi, regulator, profesional, hingga media untuk membahas strategi pengembangan industri mineral.
Dan pertambangan Indonesia di tengah tantangan global. Chairman Ikatan Alumni Metalurgi Institut Teknologi Bandung (IA-MET ITB) Erika Silva mengatakan, tantangan utama hilirisasi terletak pada kemampuan mengorkestrasi kepentingan industri, akademisi, dan regulasi, agar berjalan searah.
“Di situlah peran kami nantinya di METCONNEX. Kami ingin mengkolaborasikan para profesional, engineer dari industri, kemudian juga akademisi dengan pengalaman teoretis nya dari sisi akademik. Lalu dari sisi regulasi, bagaimana semua itu terorkestrasi dengan baik sehingga program hilirisasi yang dijalankan oleh Pemerintah bisa tercapai,” ujar Erika dalam acara Media Luncheon Cameron Minerba METCONNEX 2026, di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Ia menilai, hilirisasi industri berbasis sumber daya alam strategis menjadi salah satu penopang target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029.
“Kalau kita lihat, rencana jangka menengah Pemerintahan Prabowo Subianto dari 2025 sampai 2029 memiliki target peningkatan ekonomi sebesar 8 persen per tahun yang mulai harus dicapai pada 2029. Salah satu yang dapat mendukung itu adalah hilirisasi industri atau industrialisasi berbasis sumber daya alam unggulan. Kita punya mineral kritis dan mineral strategis yang sudah dicanangkan oleh Pemerintah,” katanya.
Menurut Erika, sektor pertambangan dan manufaktur memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga perlu diperkuat melalui konektivitas antarpelaku industri.
Baca juga : Menperin Bantah Isu Deindustrialisasi: Industri Serap 20 Juta Tenaga Kerja
Head of Committee METCONNEX 2026 Bara Dipolyadi mengatakan, METCONNEX dirancang sebagai ruang kolaborasi untuk membahas pengembangan teknologi dan strategi masa depan industri mineral nasional.
“METCONNEX hadir sebagai wadah dan platform untuk menghubungkan para ahli, praktisi industri, akademisi, serta pemegang kebijakan, agar dapat berdiskusi mengenai pengembangan teknologi. Dan strategi masa depan industri mineral,” ujar Bara.
Ia menjelaskan, METCONNEX 2026 merupakan penyelenggaraan ketiga setelah sebelumnya digelar pada 2019 dan 2022. Tahun ini, acara tersebut berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Tambang ITB dengan mengusung tema Mining AI & Digitalization (Mine Aidic).
“Hal tersebut berasal dari teman-teman alumni tambang yang ingin memfokuskan pembahasan pada pemanfaatan AI dan teknologi digital untuk aplikasi pertambangan. Jadi nama event kali ini adalah METCONNEX Mining AI & Digitalization,” katanya.
Menurut Bara, salah satu pembeda utama METCONNEX tahun ini adalah adanya agenda technical workshop yang akan digelar pada hari pertama pelaksanaan acara.
“Dalam dunia mineral processing, metode pembelajaran terbaik sering kali adalah learning by doing. Banyak engineer belajar langsung dari senior di lapangan maupun dari para operator,” ujarnya.
Ia mengatakan, pelatihan teknis tersebut akan diberikan secara gratis sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan kapasitas sumber daya manusia di sektor pertambangan.
Baca juga : METCONNEX 2026 Perkuat Hilirisasi Tambang dan Industri Metalurgi
“Harapannya, kombinasi antara pengalaman lapangan dan tambahan teori dapat memperluas wawasan serta memberikan kontribusi positif ketika mereka kembali ke tempat kerja masing-masing,” kata Bara.
Selain workshop teknis, METCONNEX 2026 juga akan menghadirkan sesi talk show yang melibatkan pimpinan perusahaan tambang besar nasional, seperti PT Freeport Indonesia, PT Amman Mineral, Inalum, Arutmin, dan Arsari Tambang.
“Kami mengundang para CEO tersebut untuk memberikan insight mengenai bagaimana kebijakan perusahaan menghadapi tantangan global saat ini. Dan seperti apa visi mereka ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Chairman Ikatan Alumni Teknik Tambang (IA-TA ITB) Achmad Ardianto menilai, industri pertambangan Indonesia tengah memasuki fase transformasi besar melalui hilirisasi, digitalisasi, dan penguatan aspek keberlanjutan.
Menurut Didi, sapaan akrab Achmad Ardianto, ekosistem pertambangan nasional menghadapi tantangan kompleks mulai dari penguasaan cadangan, teknologi pengolahan, pengelolaan limbah, hingga tekanan global terhadap isu lingkungan.
“Kalau kita melihat ekosistem industri pertambangan di Indonesia, isunya sangat banyak. Mulai dari penguasaan dan identifikasi cadangan, isu pertambangan, lingkungan, CSR, teknologi pengolahan, limbah, hingga aspek komersial,” kata Didi.
Didi yang juga Mantan Direktur Utama PT Antam Tbk menilai, percepatan hilirisasi tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi pentahelix antara Pemerintah, industri, akademisi, komunitas profesi, dan media.
Baca juga : Industri Makanan Minuman Tingkatkan Produksi Jelang Lebaran
“Tidak bisa hanya industri berjalan sendiri. Tidak bisa hanya Pemerintah membuat aturan. Tidak bisa hanya akademisi memberikan pendidikan. Tidak bisa hanya masyarakat memberikan tanggapan dan dukungan. Tetapi juga perlu elemen kelima, yaitu media,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan konsep circular economy dalam industri pertambangan untuk mengurangi limbah dan meningkatkan pemanfaatan mineral ikutan.
“Bagaimana industri pertambangan dapat berperan aktif menciptakan zero waste. Kita tahu saat menambang nikel, kadar utamanya mungkin hanya 2–5 persen. Sisanya dianggap limbah. Padahal secara geologi dan metalurgi, limbah itu masih mengandung unsur-unsur lain yang bernilai,” kata Didi.
Selain itu, isu sustainability, ESG, critical minerals, dan rare earth elements (REE) juga menjadi salah satu fokus pembahasan dalam METCONNEX 2026, yang saat ini menjadi salah satu topik strategis.
"Kami ingin membahas bagaimana arah kebijakan Pemerintah terkait pengembangan critical minerals ke depan,” ujar Didi.
METCONNEX 2026 dijadwalkan berlangsung setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 18.00 WIB dengan agenda diskusi strategis, workshop teknis, serta forum kolaborasi industri pertambangan dan metalurgi nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya