Dark/Light Mode

Alarm Merah bagi Pencari Kerja Lulusan SMA dan SMK di Kepulauan Riau

Jumat, 15 Mei 2026 08:55 WIB
Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kepri Suryadi (Foto: Disnaker Kepri)
Kabid Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Disnakertrans Kepri Suryadi (Foto: Disnaker Kepri)

Kepulauan Riau (Kepri) sering kali dianggap sebagai harapan mengubah hidup, karena posisinya yang strategis dan sektor industrinya yang masif menyimpan magnet untuk datang, terutama ke Pulau Batam. Namun, data terbaru dari Berita Resmi Statistik (BRS) per Februari 2026 mengungkap sebuah kenyataan yang kontradiktif, di tengah gemerlap industri, Kepri masih terjebak dalam angka pengangguran yang mengkhawatirkan.

Jika dibandingkan secara nasional, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kepri sebesar 6,87 persen. Angka ini terpaut cukup jauh di atas rata-rata nasional yang hanya berada di level 4,68 persen. Meskipun secara nasional pengangguran mengalami penurunan sebesar 0,08 persen poin, Kepri seolah berjalan di tempat dengan penurunan yang sangat tipis, hanya 0,02 persen poin dari tahun sebelumnya.

Baca juga : Dikira Narasumber, Pelamar Kerja Ini Mendadak Live

Hal yang paling ironis dalam potret ketenagakerjaan ini adalah nasib lulusan sekolah menengah. Seharusnya, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) menjadi solusi penyediaan tenaga kerja siap pakai, namun realitanya justru menjadi kelompok yang paling rentan. Secara nasional, TPT SMK mencatatkan angka tertinggi sebesar 7,74 persen. Di Kepulauan Riau, situasinya bahkan lebih ekstrem; kelompok SMA/SMK menyumbang porsi pengangguran paling besar, yakni mencapai 63,63 persen dari total seluruh penganggur di provinsi ini.

Data ini menunjukkan adanya mata rantai yang terputus (mismatch) antara kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Di Kepri, meskipun industri pengolahan menyerap 21,89 persen tenaga kerja, lulusan SMA justru lebih banyak terserap (34,00 persen) dibandingkan lulusan SMK yang hanya 15,39 persen. Ini adalah tamparan bagi sistem pendidikan vokasi kita yang perlu segera dievaluasi kualitasnya agar benar-benar relevan dengan kebutuhan pasar.

Baca juga : Deretan Elite Penegak Hukum dan Pejabat Hadir di Pelantikan PERADI Profesional

Mengapa Kepri begitu tertekan? Jawabannya mungkin terletak pada daya tarik ekonominya sendiri. Rata-rata upah buruh di Kepri mencapai Rp 4,74 juta per bulan, angka yang sangat jauh melampaui rata-rata nasional sebesar Rp 3,29 juta. Magnet kesejahteraan ini memicu lonjakan Penduduk Usia Kerja (PUK) di Kepri yang bertambah sebanyak 27,94 ribu orang hanya dalam kurun waktu satu tahun.

Sayangnya, arus pasokan tenaga kerja ini tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang setara, sehingga menciptakan tekanan hebat di wilayah perkotaan dengan TPT mencapai 7,12 persen. Kepri kini tidak hanya harus berjuang menciptakan lapangan kerja, tapi juga memenangkan persaingan melawan arus migrasi pencari kerja yang tergiur upah tinggi.

Baca juga : KPK Perpanjang Lagi Penahanan Eks Menag Yaqut di Kasus Kuota Haji

Dapat disimpulkan Kepulauan Riau sedang menghadapi tantangan besar. Pemerintah daerah tidak bisa lagi hanya membanggakan status sebagai pusat industri. Fokus utama harus dialihkan pada sinkronisasi keahlian lulusan SMK dan SMA agar mereka tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri. Jika link and match antara dunia pendidikan dan industri tidak segera diperbaiki, maka pertumbuhan angkatan kerja di Kepri hanya akan menjadi bom waktu sosial yang menambah panjang daftar pengangguran di tengah melimpahnya peluang industri.

Suryadi.kangboi
Suryadi.kangboi
Kepala Bidang Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, Disnakertrans Provinsi Kepri

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.