Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
Kerek Produksi Avtur Ramah Lingkungan
Pertamina Kelola Potensi Besar Limbah Migor SPPG
Senin, 18 Mei 2026 06:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) akan memanfaatkan limbah minyak goreng (migor) atau minyak jelantah dari puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meningkatkan produksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan baku itu diproyeksi mencapai 6 juta liter per bulan.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri mengatakan, minyak jelantah merupakan hal yang terlihat sederhana, tetapi memiliki dampak besar.
Pihaknya telah menjalin sinergi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Nota Kesepahaman terkait pengembangan ekosistem energi berkelanjutan berbasis limbah domestik, yang telah ditandatangani di Jakarta, Kamis (7/5/2026).
Menurut Simon, sinergi tersebut bukan sekadar kerja sama, melainkan pertemuan dua mandat strategis bangsa, sebagaimana tertuang dalam Misi ke-2 Asta Cita Pemerintah untuk membangun kemandirian di sektor pangan dan energi secara simultan.
Baca juga : Airlangga Teken MoU Kerja Sama Senilai 7 T
“Kami melihat bagaimana dua sektor tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling menguatkan dalam satu ekosistem yang terintegrasi,” ujar Simon dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Lewat kerja sama ini, kata Simon, akan terbentuk ekosistem pengumpulan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah dari puluhan ribu SPPG di seluruh Indonesia. Sebelumnya, minyak bekas masakan atau jelantah dianggap limbah, bahkan sering menjadi sumber pencemaran lingkungan.
“Kini kami ubah perspektif itu. Kami jadikan limbah sebagai sumber daya. Kami jadikan masalah sebagai solusi. Inilah esensi dari circular economy dan di sinilah peran Pertamina menjadi penting,” tuturnya.
Simon menjelaskan, implementasi program pengumpulan minyak jelantah akan dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga, yang merupakan bagian dari perseroan, melalui mesin pengumpulan UCollect.
Baca juga : Pram Punya PR Berantas Judol & Prostitusi Anak
“Minyak jelantah yang terkumpul akan dimanfaatkan sebagai bahan baku (feedstock) produksi SAF, Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) dan biogasoline,” ucapnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana menyebut, kolaborasi ini akan menjadi upaya keduanya untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.
Ia mengungkapkan, setiap SPPG rata-rata menggunakan sekitar 800 liter minyak goreng setiap bulan dan sebagian besar akan berubah menjadi minyak jelantah.
“70 persen-nya akan berakhir menjadi minyak jelantah,” kata dia.
Baca juga : Cristiano Ronaldo, Lanjut Puasa Gelar
Artinya, sambung dia, setiap SPPG diperkirakan menghasilkan sekitar 500 hingga 590 liter minyak jelantah per bulan.
Dengan jumlah SPPG yang kini mencapai sekitar 17.200 unit di Pulau Jawa, maka potensi minyak jelantah yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 6 juta liter setiap bulan.
Bahkan, bila mengacu pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto, bahwa pada pertengahan Februari 2026, jumlah SPPG telah mencapai 23.000 di seluruh pelosok negeri.
Menurut perhitungan Dadan, akan terkumpul setidaknya 23.000 x 500 liter atau sama dengan 11,5 juta liter minyak jelantah.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya