Dark/Light Mode

Kerek Produksi Avtur Ramah Lingkungan

Pertamina Kelola Potensi Besar Limbah Migor SPPG

Senin, 18 Mei 2026 06:30 WIB
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri. (Foto: Tedy Kroen/rm.id)

 Sebelumnya 
“Perlu diketahui, bahwa di BGN minyak tidak boleh sering digunakan. Jadi, maksimal rata-rata 3 kali goreng lalu menjadi minyak jelantah,” terangnya. 

Sebelumnya, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M.V. Dumatubun menjelaskan, Kilang Cilacap yang dikelola Pertamina saat ini bisa memproduksi produk SAF dari UCO dalam skala komersial. 

“Pada Maret 2026, kilang Pertamina Patra Niaga merealisasikan produksi komersial Pertamina SAF guna memenuhi permintaan pelanggan,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026). 

Sepanjang Maret 2026, perusahaan mencatat total produksi mencapai sekitar 45 ribu barel SAF yang telah memenuhi standar kualitas internasional. 

Baca juga : Airlangga Teken MoU Kerja Sama Senilai 7 T

Produk tersebut kemudian didistribusikan melalui jalur laut dari pelabuhan Kilang Cilacap menuju dua bandara utama, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai, Bali. 

Ia memastikan, proses produksi dimulai dari penyediaan bahan baku minyak jelantah yang telah tersertifikasi International Sustainability Carbon Certification (ISCC), kemudian diolah di fasilitas Green Refinery Kilang Cilacap. 

Selain itu, produk yang dihasilkan juga dipastikan memenuhi standar internasional Defence Standard (DEFSTAN) 91-091 untuk spesifikasi avtur, serta ketentuan regulasi domestik. 

“Produksi ini menjadi momentum penting yang meneguhkan komitmen Pertamina Patra Niaga sebagai pioneer produsen SAF di Indonesia dan Regional,” ungkapnya. 

Baca juga : Pram Punya PR Berantas Judol & Prostitusi Anak

Menanggapi ini, pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi, menyambut positif upaya Pertamina memanfaatkan minyak jelantah hasil operasional BGN. 

Ia menilai, pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi hijau memiliki potensi besar bagi Indonesia, terutama untuk produksi biodiesel dan SAF yang merupakan bahan bakar pesawat ramah lingkungan. 

Dia menekankan, kerja sama seperti ini perlu terus diperluas, apalagi Pertamina juga sudah ada program pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat. 

“Ini bagus, agar sesuatu yang dianggap limbah ternyata punya nilai tinggi bila diolah lagi. Apalagi ini bisa menjadi bahan bakar alternatif untuk pesawat,” ujar Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Baca juga : Cristiano Ronaldo, Lanjut Puasa Gelar

Ia optimistis, pengembangan UCO mampu memberi beberapa manfaat sekaligus, tak hanya mengurangi limbah dan pencemaran lingkungan. Tetapi juga menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta turut meningkatkan ketahanan energi nasional. Bahkan, membuka peluang ekonomi hijau dan industri baru. 

“Kilang Pertamina juga sudah mampu menghasilkan produk SAF, artinya sudah didukung dengan teknologi dan produk tersertifikasi sesuai aturan atau standar yang ada,” imbuhnya. 

Menurutnya, hal ini telah menunjukkan bahwa Indonesia melalui Pertamina serius mengembangkan SAF berbahan minyak jelantah. Serta didukung dengan peta jalan nasional terkait pengembangan SAF, dengan minyak jelantah sebagai salah satu bahan baku utama. 

“Kalau sekarang, dari kilang Cilacap sudah mengirim SAF ke dua bandara, harapannya ke depan kapasitas produksi bisa terus ditingkatkan dan penggunaan SAF ini bisa terus meluas ke bandara lain di Indonesia,” pungkasnya. [IMA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.