Dark/Light Mode

Penjual & Pembeli Saling Diuntungkan

UKM Di Desa Mulai Terima Pembayaran Lewat Aplikasi

Senin, 4 Februari 2019 10:07 WIB
Pembayaran non tunai menjadi alternatif pembayaran yang efektif dan efisien. (Foto : istimewa)
Pembayaran non tunai menjadi alternatif pembayaran yang efektif dan efisien. (Foto : istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sistem pembayaran digital mulai dirasakan manfaatnya. Bukan hanya dari sisi pembeli, penjual pun merasa dimudahkan.

Salah satunya Holifah, karyawan kedai kopi Foresthree yang beralamatkan di Plaza Semanggi, Jakarta Selatan. Hampir setiap hari dia melayani pembelian minuman berbasis kopi dengan konsep to go.

Meski menyediakan tiga buah kursi saja, pembeli dari aplikasi online atau yang langsung ke kedainya selalu bergantian. Holifah, jarang terlihat ‘nganggur’. “Ya, saya jadi nggak perlu nyiapin receh buat kembalian. Karena kan, semua dibayar pakai aplikasi. Sebagai penjual, saya merasa lebih dimudahkan. Ada yang bayar, tinggal buka aplikasi di ponsel. Lalu beres,” jelas Holifah, sambil membuat es kopi susu, menu andalan tempatnya bekerja.

Baca juga : Komunitas UKM Diminta Bikin Koperasi

Menjual minimal 30 gelas setiap hari, dan melayani pembeli seorang diri, Holifah merasa sangat terbantu dengan pembayaran non tunai . Tapi hal ini membuatnya pulang lebih lama.

“Karena, waktu jam kerja selesai, saya harus buat laporan dulu. Pembayaran non tunai dan tunai harus jelas di laporan,” tambahnya.

Namun begitu, pembayaran tunai ataupun non tunai tetap dilayani sepenuh hati. Pembayaran lewat aplikasi digital tidak hanya lagi ngetren di Jakarta. Di desa pun kini penggunaannya pun mulai banyak.

Baca juga : Dana Desa Bisa Dipakai Buat Perbaikan Desa

Seperti yang dialami Narmi, pengusaha asal Banyuwangi yang menjual biji dan bubuk kopi lokal. Di jajaran produk kopi yang dijualnya, terselip sebuah papan barcode aplikasi MY QR milik BRI Narmi bilang, sudah sebulan ini usaha kopi bermerek Jemblung itu menerima pembayaran kopi lewat aplikasi scan barcode.

“Kalau pembayaran lewat aplikasi ini biasanya digunakan pembeli yang datang dari luar Banyuwangi. Kalau penduduk setempat masih lebih senang bayar pakai uang tunai,” jelas Narmi, yang tiap bulannya mampu menjual 1 kwintal biji kopi.

Karena itu, usaha yang dimulai sejak 2016 itu tak menjadikan uang elektronik sebagai satu- satunya cara pembayaran. Apalagi usahanya ini lebih banyak menyasar pasar daerah, yang mana informasi dan kedadaran penggunaan non tunai masih belum merata. Kendati begitu, Narmi mengaku kopi Excelsa yang menjadi unggulan Jemblung, sudah ada pembeli tetapnya di Macau hingga Jerman.

Baca juga : Ma’ruf Mulai Nyerang

Menurut penjelasan M Choirul Anam, Kepala Cabang BRI Banyuwangi, hampir semua merchant BRI di daerah tersebut memang sudah memakai sistem pembayaran MY QR. “Penerapan MY QR itu lebih mudah. Waktu pertama kali mengajarkan petani dan pelaku UKM, juga lebih gampang dibandingkan EDC (electronic data capture),” terang Choirul kepada Rakyat Merdeka.

Bahkan ia meyakini, tidak lama lagi semua pembayaran akan dilakukan secara digital. Mengingat penggunaan smart-phone kini makin luas hingga ke desa. “Nanti beli sayur pun pakai MY QR. Di sini kami bergerak cepat meluaskan MY QR sejak aplikasi ini mendapat persetu- juan OJK,” tutupnya.[MER]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :