Dark/Light Mode

Kadin Kalbar: Kenaikan Harga Pertamax Berpotensi Pengaruhi Ongkos Logistik

Kamis, 11 Juni 2026 21:38 WIB
Foto: Kadin Kalbar.
Foto: Kadin Kalbar.

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Kadin Kalimantan Barat (Kalbar) Arya Rizqi Darsono menilai, penyesuaian harga BBM nonsubsidi perlu dicermati dari dampaknya terhadap aktivitas ekonomi daerah.

Menurutnya, perubahan biaya energi berpotensi mempengaruhi biaya logistik, distribusi barang, hingga daya beli masyarakat.

“Kadin Kalbar memahami bahwa BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme harga keekonomian. Namun, bagi daerah seperti Kalimantan Barat, setiap penyesuaian harga energi perlu dilihat dari dampaknya terhadap biaya logistik, distribusi barang, dan daya beli masyarakat,” ujar Arya dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Arya menjelaskan, dampak penyesuaian harga BBM nonsubsidi cukup relevan bagi Kalbar lantaran struktur perekonomian daerah masih sangat bergantung pada sektor transportasi dan distribusi.

Baca juga : GKB-NU Ajak Masyarakat Jaga Persatuan di Tengah Dinamika Nasional

Aktivitas perkebunan, pertambangan, perdagangan, hingga distribusi antardaerah turut dipengaruhi oleh biaya energi.

“Biaya energi bukan hanya menjadi biaya langsung, tetapi juga memengaruhi rantai pasok secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Arya, sektor yang berpotensi terdampak antara lain logistik dan angkutan barang, perkebunan, pertambangan, konstruksi, perdagangan bahan pokok, jasa distribusi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada mobilitas harian dan pengiriman barang.

Ia memperkirakan, biaya operasional di sejumlah sektor usaha dapat mengalami kenaikan sekitar 3-8 persen, tergantung pada tingkat konsumsi BBM dan karakteristik operasional masing-masing usaha.

Baca juga : Redam Dampak Kenaikan Pertamax, Ekonom Dorong Pemerintah Salurkan Bansos Tunai

“Untuk sektor logistik, distribusi, dan usaha yang banyak beroperasi di lapangan, dampaknya dapat lebih besar tergantung kebutuhan bahan bakar dan jarak angkut,” ungkapnya.

Arya juga mengingatkan perlunya menjaga iklim usaha yang kondusif agar aktivitas investasi tetap berjalan baik.

Menurutnya, investor tidak hanya mempertimbangkan harga energi, tetapi juga memperhatikan konsistensi kebijakan, kepastian pasokan, kualitas infrastruktur, serta daya saing biaya usaha secara keseluruhan.

Di sisi lain, pelaku UMKM juga perlu mendapatkan perhatian karena memiliki ruang efisiensi yang relatif lebih terbatas dibanding usaha berskala besar.

Baca juga : Misbakhun: DPR Kawal Mitigasi Kenaikan Pertamax terhadap Daya Beli Masyarakat

Kenaikan biaya transportasi dan bahan baku berpotensi mempengaruhi margin usaha mereka.

“Jika biaya tambahan diteruskan ke harga jual, daya beli masyarakat dapat terpengaruh. Sebaliknya, jika tidak dilakukan penyesuaian harga, pelaku UMKM harus menanggung tambahan beban biaya operasional,” jelasnya.

Karena itu, Arya berharap berbagai pihak dapat terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah sekaligus mendukung keberlangsungan dunia usaha dan daya beli masyarakat.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.