Dark/Light Mode

Respons Pasar Positif

Pasca BI-Rate Naik: Rupiah Menguat, Aliran Modal Asing Mengalir Deras

Jumat, 12 Juni 2026 19:51 WIB
Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. (Foto: dok. BI)
Kantor Pusat Bank Indonesia di Jakarta. (Foto: dok. BI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026), ditutup pada level Rp 17.865/75 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,84 persen dibanding penutupan Jumat (5/6/2026) pekan lalu, di level Rp 18.010/20 per dolar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, perkembangan  ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan BI, yang diputuskan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (9/6/2026).

Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen, penguatan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.

"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," ujar Destry dalam keterangan resmi, Jumat (12/6/2026).

Baca juga : Optimistis Rupiah Menguat, Mensesneg: Semua Kebijakan Harus Saling Dukung

Destry menjelaskan, pasca kenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.

Tingginya minat investor global tercermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan Surat Berharga Negara (SBN) yang tercatat  sebesar Rp 15,11 triliun pada 10 Juni 2026 dan Rp 3,91 triliun pada 11 Juni 2026.

Aliran masuk modal asing juga terjadi pada obligasi internasional Danantara, yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp 26,9 triliun.

"Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," beber Destry. 

Baca juga : Pakar Gizi: MBG dan Pendidikan Saling Menguatkan Bangun SDM Unggul

Ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Terkait hal tersebut, ada tiga kesepakatan yang dihasilkan, yaitu sinergi yang tidak hanya memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara - tetapi juga stabilitas keuangan yang regional yang lebih luas -, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).

Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Destry memastikan, BI akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sekaligus memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

"Dengan berbagai perkembangan itu, rupiah diyakini akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya," pungkas Destry. 

Baca juga : Geopolitik Dan Geostrategi Kepala Daerah Mengendalikan Inflasi Daerah

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.