Dark/Light Mode

Sulap Sampah Jadi Energi Bersih, Pertamina Perkuat Transisi Energi

Rabu, 5 Agustus 2026 06:40 WIB
Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini (tengah kanan) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (tengah kiri) beserta jajaran, foto bareng usai penandatanganan kesepakatan kerja sama pengembangan pengolahan sampah menjadi hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026). (Foto: Dok. Pertamina)
Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini (tengah kanan) dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (tengah kiri) beserta jajaran, foto bareng usai penandatanganan kesepakatan kerja sama pengembangan pengolahan sampah menjadi hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/7/2026). (Foto: Dok. Pertamina)

 Sebelumnya 
 

Perkuat Transisi Energi 

Langkah Pertamina menggandeng Pemprov Jabar dalam mengelola sampah di TPA Sarimukti menjadi energi bersih mendapat apresiasi dari Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Fahmy Radhi. Menurutnya, inisiatif tersebut merupakan terobosan baru yang dapat memperkuat bauran energi nasional, sekaligus membantu mengatasi persoalan sampah yang dihadapi hampir seluruh daerah di Indonesia. 

“Inisiatif ini bisa melengkapi pengembangan bioenergi seperti B50 dan E10. Menurut saya, B50 dan E10 saja belum cukup. Kita memang memerlukan terobosan-terobosan lain. Inisiatif seperti ini sangat baik,” kata Fahmy kepada Rakyat Merdeka, Senin (3/8/2026). 

Baca juga : Pram Yakin Pemprov Bisa Melunasi Utang

B50 dan E10 adalah program campuran bahan bakar nabati untuk mengurangi impor energi. Komposisi B50 terdiri 50 persen biodiesel sawit dan 50 persen solar. Sedangkan E10, merupakan campuran 10 persen bioetanol dan 90 persen bensin. 

Fahmy berpendapat, model pengolahan sampah menjadi energi tersebut layak direplikasi di berbagai daerah. Selain mampu mengurangi timbunan sampah, proyek seperti ini juga menghasilkan energi yang bermanfaat, baik berupa listrik maupun bahan bakar. 

“Hampir semua daerah menghadapi persoalan sampah. Karena itu, upaya mengolah sampah menjadi energi memberikan manfaat ganda. Di satu sisi menyelesaikan persoalan sampah, di sisi lain menghasilkan energi,” ujarnya. 

Tantangan Utama 

Baca juga : Tanpa Rodri, City Bakal Suram

Fahmy mengingatkan, proyek waste to energy ini menghadapi tantangan utama berupa sistem pemilahan sampah. Jika tidak segera diatasi, proyek akan sulit berkelanjutan. 

Menurut dia, permasalahan terbesar adalah siapa yang menanggung biaya pemilahan sampah sebelum diolah. Kalau seluruh biaya dibebankan kepada pihak yang mengolah sampah, misalnya Pertamina, biaya produksinya akan menjadi mahal. 

“Karena itu, biaya pemilahan sampah seharusnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah melalui APBD. Dengan skema ini, biaya pengolahan dapat ditekan sehingga proyek lebih ekonomis dan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang,” terang Fahmy. 

Baca juga : Maverick Vinales Ogah Ditendang Ke Superbike

Fahmy juga menyoroti pentingnya membangun budaya memilah sampah, mulai dari level rumah tangga. Dalam pandangan Fahmy, masyarakat di sejumlah daerah - termasuk di Jakarta - sudah mulai terbiasa memilah sampah. Namun, kebiasaan tersebut belum merata di seluruh Indonesia. 

“Ini memang membutuhkan waktu. Selain edukasi kepada masyarakat, sistem pemilahan juga harus berjalan hingga tempat pembuangan akhir. Jangan sampai, sampah yang sudah dipilah kembali tercampur,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.