Dark/Light Mode

Mengawal Kedaulatan Energi: Aksi Pekerja Pertamina Drilling di Indramayu

Kamis, 27 Agustus 2026 06:44 WIB
Dari kiri: VP Human Capital PDSI Abimanyu Suryadi, Ketua Umum SP PDSI Rahmat Wijaya, Presiden FSPPB Arie Gumilar, Aktivis energi Ugan Gandar. dalam acara Sarasehan Energi Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) bersama Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), di Desa Kaplongan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/8/2026).
Dari kiri: VP Human Capital PDSI Abimanyu Suryadi, Ketua Umum SP PDSI Rahmat Wijaya, Presiden FSPPB Arie Gumilar, Aktivis energi Ugan Gandar. dalam acara Sarasehan Energi Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) bersama Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), di Desa Kaplongan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Rabu (27/8/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi masih dibalut udara dingin ketika Rakyat Merdeka dan lima jurnalis bergegas menaiki Kereta Api Fajar Utama Solo di Stasiun Pasar Senen, persis saat jarum jam menunjuk pukul 05.30 WIB.

Di perjalanan menuju pesisir utara Jawa Barat itu, kami didampingi Corporate Secretary Pertamina Drilling Contractor (PDC) Ani Aryani dan Jr. Analyst CSR PDC Harun. Derap roda besi yang meluncur saban kilometer menjadi pembuka sebuah perjalanan untuk melihat langsung saresehan energi dan denyut kedaulatan energi nasional.

Perjalanan roda besi menuju pesisir utara Jawa Barat ini menjadi awal dari sebuah ruang diskusi penting, bukan di balik meja kantoran, melainkan langsung dari jantung pelatihan pengeboran migas nasional.

Diskusi mengenai masa depan energi nasional sering kali bergulir di gedung-gedung pencakar langit Jakarta atau ruang-ruang rapat kementerian. Namun, di sebuah kawasan pelatihan di pesisir utara Jawa Barat, pembicaraan itu terasa jauh lebih konkret, membumi, dan beraroma minyak pelumas serta besi rig.

Rabu (26/8/2026), rombongan pekerja, pengurus serikat, dan aktivis energi berkumpul di Indonesia Drilling Training Center (IDTC) PDSI, Desa Kaplongan, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu.

Di tengah riuk fasilitas pelatihan pengeboran migas tersebut, Serikat Pekerja PT Pertamina Drilling Services Indonesia (SP PDSI) menggelar Sarasehan Energi memperingati ulang tahunnya yang ke-16 bersama Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB).

Mengusung tema “Memperkuat Peran Pertamina Drilling dalam Menjaga Ketahanan Energi Indonesia”, forum tersebut tidak sekadar menjadi ajang seremoni serikat buruh.

Di tempat di mana para juru bor dan teknisi diasah kompetensinya, para pekerja menegaskan posisi strategis mereka: bukan sekadar roda penggerak operasional, melainkan benteng pertahanan kedaulatan energi bangsa.

Suasana sarasehan dibuka dengan ketatnya prosedur keselamatan (safety induction), disusul lantunan lagu Indonesia Raya, Mars FSPPB, dan Hymne FSPPB yang berkumandang khidmat.

Baca juga : FSPPB Minta PDSI Jadi Integrator Drilling Pertamina

Diskusi yang dimoderatori oleh Firmansyah Arifin menghadirkan Presiden FSPPB Arie Gumilar, aktivis energi Ugan Gandar, Ketua Umum SP PDSI Rahmat Wijaya, VP Human Capital PDSI Abimanyu Suryadi, Corporate Secretary Pertamina Drilling Contractor (PDC) Ani Aryani.

Hadir juga pengamat energi nasional Sofyano Zakaria, Ferdinand Hutahaean, Salamuddin Daeng dan Marwan Batubara. Serta perwakilan serikat pekerja konstituen FSPPB untuk membahas masa depan bisnis pengeboran dan posisi strategis PDSI dalam ekosistem hulu migas.

Di hadapan peserta, Arie Gumilar menyoroti gelombang transformasi dan perampingan (streamlining) yang tengah berlangsung di lingkungan Pertamina Subholding Upstream.

Menurutnya, pembenahan struktur organisasi tidak boleh sampai menggerus kapabilitas inti pengeboran nasional.

PT Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dinilai memiliki modal sosial, kompetensi, armada, serta teknologi yang utuh untuk didorong menjadi National Drilling Champion.

"Streamlining tidak boleh berhenti pada pengurangan struktur atau peleburan entitas. Ukurannya adalah apakah transformasi tersebut menghasilkan Pertamina yang lebih kuat, lebih efisien, lebih produktif, lebih andal, serta mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan, negara, dan rakyat Indonesia," ujar Arie.

Menjaga Aset Pengetahuan

Usai diskusi, para peserta menyusuri fasilitas IDTC dalam sesi visit tour. Di tempat inilah intellectual capital aset terpenting yang tak kasatmata terus diregenerasi.

FSPPB menekankan bahwa kekuatan PDSI bukan semata-mata diukur dari 58 unit armada rig yang dimilikinya, melainkan akumulasi pengalaman operasional, keahlian rekayasa (engineering), budaya Health, Safety, Security, and Environment (HSSE), serta pemahaman mendalam atas karakter berbagai lapangan migas di Indonesia yang telah ditimba puluhan tahun.

"Yang harus kita jaga bukan hanya rig atau aset fisiknya. Yang jauh lebih penting adalah ekosistem pengetahuan dan kompetensi yang telah dibangun Pertamina selama puluhan tahun. Engineering capability, pengalaman operasi, teknologi, HSSE culture, dan insan drilling adalah strategic intellectual capital bangsa," tegas Arie di tengah area saresehan.

Baca juga : SP PDSI Tekankan Pertamina Drilling Jadi Pusat Kompetensi Pengeboran

Penguatan kapasitas pengeboran dipandang kian mendesak di tengah target nasional untuk menggenjot produksi migas, menemukan cadangan baru melalui eksplorasi laut dalam (deepwater) maupun new frontier, serta mengoptimalkan lapangan-lapangan tua (mature).

Arie menilai, konsolidasi seluruh kompetensi pengeboran ke dalam wadah PDSI justru menjadi kunci keberhasilan efisiensi perusahaan.

"Efisiensi bukan berarti menghilangkan capability. Efisiensi adalah bagaimana capability yang kita miliki dikonsolidasikan, dioptimalkan, dan dibuat semakin produktif. Dengan skala yang kuat, PDSI mempunyai ruang besar untuk menjadi center of excellence pengeboran Pertamina sekaligus Indonesia," jelasnya.

Menatap Pasar Global

Konsep National Drilling Champion yang diusung pekerja bukan sekadar amunisi lokal. FSPPB mendorong agar PDSI terus memperkuat kemampuan one stop drilling solution, integrated project management, serta penerapan teknologi digital drilling, agar mampu bersaing di kancah internasional.

"National Drilling Champion bukan tentang membesarkan satu perusahaan untuk kepentingan perusahaan itu sendiri. Ini adalah tentang membangun dan menjaga strategic national capability," kata Arie.

Ia melanjutkan, negara yang ingin memiliki ketahanan energi harus memiliki kemampuan menemukan cadangan, mengebor, mengembangkan lapangan, dan menjaga produksinya.

"Semakin kuat kemampuan drilling Pertamina, semakin kuat pula kemampuan Indonesia menjaga keberlanjutan produksi migas dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak lain."

Sikap kritis namun konstruktif pun disuarakan, agar proses transformasi Pertamina Subholding Upstream tetap mengacu pada kajian bisnis yang transparan dan terukur tanpa mengorbankan operational excellence.

"Kami mendukung perubahan yang membuat Pertamina semakin baik. Tetapi transformasi harus memperkuat capability, bukan justru menghilangkannya. Kompetensi yang sudah dibangun puluhan tahun harus menjadi fondasi untuk membawa Pertamina naik kelas," tambah Arie.

Baca juga : FSPPB Dorong PDSI Jadi National Drilling Champion Indonesia

"Visinya harus lebih jauh. PDSI jangan hanya menjadi drilling company Pertamina. Kita harus membangun PDSI menjadi National Drilling Champion Indonesia yang suatu saat berdiri sejajar dengan perusahaan drilling kelas dunia," pungkasnya.

Dari Indramayu

Setelah rangkaian sarasehan dan kunjungan ke fasilitas IDTC, peserta melanjutkan perjalanan menuju Cirebon. Pada malam hari, agenda diisi ramah tamah dan makan malam bersama, sebelum dilanjutkan pembekalan kepada pengurus SP-PDSI.

Bagi SP-PDSI, HUT ke-16 menjadi momentum untuk melihat kembali posisi pekerja dalam perjalanan industri energi Indonesia.

Di tengah tuntutan menjaga ketahanan energi, kemampuan, profesionalisme, dan kesiapan pekerja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memastikan kegiatan operasional energi tetap berjalan.

Dari Indramayu, pembicaraan tentang ketahanan energi pun menemukan titik berangkatnya: dari pusat pelatihan pengeboran, dari pengetahuan yang diwariskan, dari teknologi yang terus dikembangkan, dan dari para pekerja yang setiap hari berada di balik upaya menemukan serta memproduksikan energi Indonesia.

Di tempat itu pula gagasan tentang PDSI sebagai National Drilling Champion Indonesia mendapatkan konteksnya, bukan sekadar membesarkan sebuah perusahaan, melainkan menjaga kemampuan strategis, agar Indonesia tetap memiliki kendali atas salah satu mata rantai penting dalam ketahanan energinya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.