Dark/Light Mode

Erick Dorong BUMN Lebih Adaptif Agar Lebih Mampu Dorong Ekonomi

Selasa, 21 Juli 2020 09:01 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Dok. Kementerian BUMN)
Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Dok. Kementerian BUMN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pandemi Covid-19 mengubah segalanya, mulai dari cara bekerja sampai bagaimana mengelola bisnis. Tak hanya sektor swasta, perusahaan BUMN pun terdampak. Karena itu, dalam situasi tak normal dan penuh tantangan akibat Covid-19, semua pihak dituntut untuk menjadi lebih adaptif, juga melakukan berbagai terobosan out of the box agar ekonomi pulih. 

Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan, dampak pandemi Covid-19 terasa ke seluruh dunia. Ini terjadi karena semua negara, perusahaan, sektor ekonomi, telah terkoneksi dalam jaringan global. Sementara, akibat Covid-19, semua dituntut menjaga jarak yang mengakibatkan ekonomi menjadi lambat.  

Karena itu, langkah pemerintah tidak mengambil kebijakan lockdown sudah tepat dengan tujuan menyeleraskan aspek kesehatan dan ekonomi. Sehingga, di kuartal pertama ekonomi Indonesia masih tumbuh 2,9 persen sementara sejumlah negara lain di periode sama ada yang sudah minus hingga 17 persen.  

Baca juga : Sandi Dorong UMKM Kolaborasi di Masa Pandemi

Dengan kebijakan adaptasi kebiasaaan baru dibarengi menerapkan protokol kesehatan, Erick berharap ekonomi bisa semakin berputar. Ia optimis, dalam beberapa bulan ke depan, ekonomi akan kembali pulih di kisaran 50 persen dan akan kembali normal 100 persen setelah vaksin ditemukan. 

“Ekonomi harus mulai bergerak, dan kita yakini dalam beberapa bulan ke depan, maksimal ekonomi 50 persen akan kembali. Saat ini juga menjadi tantangan, melakukan adaptasi, berusaha mencari, mendapatkan uang tapi cost efisiensi juga dilakukan. Namun, ada banyak pekerjaan baru akibat Covid-19, yaitu digitalisasi, semua dipaksa berubah dalam waktu sesingkat-singkatnya,” ujar Erick, dalam acara Let's Talk From Home, di aplikasi Maxstream yang dipandu Sophia Latjuba dan Gading Martin, Selasa (21/7).

Erick tak memungkiri, dampak Covid-19 juga terasa ke perusahaan BUMN. Sebelum Covid-19, di periode Februari 2020, ia masih optimis BUMN akan mampu memberi deviden besar ke nagara. Namun, akibat Covid-19 semua berubah dimana mayoritas BUMN terkena dampak, dan dari sisi pertumbuhan terganggu. Ia menyebut, BUMN sektor digital, kesehatan, perkebunan masih bertahan. 

Baca juga : Ekspor Benih Lobster Lampaui Aturan PNBP

“BUMN seperti pengusaha juga. Hanya 10 persen masih bertahan, sisanya berat. Karena itu saya juga tidak malu sampaikan ke DPR bahwa untuk deviden mungkin hanya seperempat. Namun program efisiensi, pengawasan manajemen BUMN terus dilakukan. BUMN juga dirampingkan agar efisien, dari 142 BUMN sekarang tinggal 107, jumlah komisaris juga dikurangi, supaya perusahaan sehat. BUMN kadang perlu melakukan back to basic, fokus di bisnis, expertise, agar bisa leading tanpa melupakan dua hal percepatan digital dan perbaikan sumber daya manusia,” jelas Erick.  

Mengenai kritikan beberapa pihak, Erick menyebut hal itu bagian lumrah dari proses demokrasi. Ia mampu memilah mana kritik yang benar dan memiliki kepentingan. Ia memastikan, sebagai menteri, keberpihakan pada masyarakat luas dan loyal pada Presiden untuk menjalankan kebijakan sesuai blue print dan visi Presiden dan dilakukan dengan terukur, karena BUMN harus berkontribusi, salah satunya dalam bentuk deviden.   

Erick menegaskan, hitungan pakar ekonomi, ekonomi akan kembali normal di 2022 namun pemerintah melakukan berbagai langkah percepatan agar bisa pulih lebih cepat dibanding negara lain. Apalagi Indonesia punya dua hal yaitu jumlah penduduk, sumber daya alam, tinggal menjag logistik agar lebih kompetitif dan fokus menerapkan digitalisasi.  

Baca juga : Mendag: Laporkan Jika Ada Agen Jual Gula Lebih Mahal dari HET 

Erick menegaskan, sebagaimana arahan Presiden untuk memangkas birokrasi, ia juga membuat agar sistem di dalam lebih efisien dan transparan seperti menerapkan aturan bahwa perekrutan dari luar menjadi lebih besar supaya ada sinergi antara birokrasi dan korporasi sehingga kinerja keuangan semakin baik. Harapannya, dua tahun ke depan BUMN tidak lagi bergantung pada APBN. Karena itu, ia minta birokrasi BUMN bertindak extra ordinary, melakukan langkah prograsif supaya ada dampak nyata ke negara, dan juga masyarakat. 

“Kembali berkreasi bekerja hidup normal dengan new normal, melalui protokol Covid-19, jangan gara-gara ketakutan, lalu stop berkarya. Justru saat ini perlu inovasi baru, dunia sedang berubah. Indonesia punya market besar, negara lain market kecil tetap hidup. Apalagi keberpihakan pemerintah pada produk dalam negeri itu sudah jadi kebijakan, keberpihakan kepada konten lokal, agar berdikari,” ujar Erick. [USU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.