Dark/Light Mode

Yuk, Kita Beli Hasil Pangan Langsung Dari Petani

Jumat, 28 Agustus 2020 15:25 WIB
Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia Tbk Hernie Raharja (kanan atas) bersama Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdulah (kanan bawah) dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi (kiri bawah) dalam sesi webinar/Foto: Merry Apriyani
Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia Tbk Hernie Raharja (kanan atas) bersama Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdulah (kanan bawah) dan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi (kiri bawah) dalam sesi webinar/Foto: Merry Apriyani

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Unilever Indonesia Tbk meluncurkan program Bango Pangan Lestari. Hal ini dilakukan untuk menginisiasi upaya mendukung pertanian yang berkelanjutan demi kesejahteraan para petani.

Program ini menggarisbawahi tiga pilar penting yaitu pengembangan sistem pertanian yang berkelanjutan, perlindungan kesejahteraan petani dan keluarganya serta menggalakkan regenerasi petani.

“Banyak negara di dunia, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan ketahanan pangan. Melihat fakta ini, hingga 2050 Unilever secara global berkomitmen mentransformasikan cara kita menanam, memproduksi dan mengonsumsi makanan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus bertambah,” jelas Director of Foods and Beverages PT Unilever Indonesia Tbk Hernie Raharja.

Hal tersebut guna mewujudkan komitmen Unilever yang ingin berkontribusi terhadap sistem pangan lebih baik. Yakni melalui dua hal penting, diversifikasi konsumsi dan produksi pangan.

Berita Terkait : Lewat Audit LSPro, Kualitas Produk BBIB Singosari Terjamin

“Kami akan membangun fondasi yang kuat bagi Praktik Pertanian Berkelanjutan, sehingga dapat mempersembahkan makanan yang sehat dari planet yang sehat pula ke seluruh masyarakat di berbagai belahan dunia,” ucap Hernie.

Hal ini juga sebagai upaya peningkatan ketahanan pangan melalui penerapan pertanian yang berkelanjutan secara komprehensif mengintegrasikan aspek lingkungan hingga sosial ekonomi masyarakat pertanian.

Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdulah  menjelaskan, saat pandemi sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang tidak terkontraksi pada kuartal II-2020, meski tidak sebesar pertumbuhan pada kuartal yang sama tahun lalu.

“Di balik fakta ini, secara umum kesejahteraan petani ternyata kian tergerus. Buktinya, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan, yaitu perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani, kian menurun. Di awal tahun NTP berada pada level 104,16. Sementara pada Juli 2020 indeksnya tercatat turun menjadi 100,09. Kondisi ini tentu butuh perhatian kita semua,” jelasnya.

Berita Terkait : Kereta Api Iringi Perjuangan Bangsa Indonesia

Melalui kolaborasi dengan dua e-commerce yakni Sayurbox dan TaniHub Group, Bango mengajak masyarakat membeli bahan pangan langsung dari petani lewat www.bango.co.id/bangopanganlestari.

Website ini akan menjadi penghubung bagi masyarakat yang ingin mendukung jerih payah petani dan berkontribusi nyata untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mereka.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Agung Hendriadi mengatakan, di tengah pentingnya kebutuhan pangan berkualitas, pemasaran secara online diharapkan mampu membuka akses jual beli yang lebih luas, terbuka dan cepat.

“Masyarakatnya terjamin kebutuhan pokok, petaninya pun harus sejahtera,” tegas dia.

Berita Terkait : Peneliti CIPS : Dorong Regulasi Keamanan Pangan Jasa Makanan Daring

Head of Communications Sayurbox Oshin Hernis menambahkan, kerja sama ini diharapkan dapat menyebarluaskan pentingnya membeli hasil pangan langsung dari petani, sehingga memberikan dampak yang semakin besar terhadap kesejahteraan mereka.

Sementara,Vice President of Marketing TaniHub Group Aria Alifie Nurfikry berharap program ini mampu memperluas memperluas jaringan mitra petani. [MER]