Dark/Light Mode

Tiap Tahun Harus Bayar Rp 1.000 Triliun

Utang Besar, Untung Masih Bisa Kebayar

Jumat, 2 Oktober 2020 06:25 WIB
Jumlah utang terus naik/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Jumlah utang terus naik/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

 Sebelumnya 
Tahun ini, dengan defisit APBN 6,34 persen, maka rasio utang akan naik dari kisaran 30 persen ke 36 persen dalam satu tahun. Sementara, untuk tahun depan, prediksinya, defisit akan sedikit turun ke kisaran 5,7 persen, sehingga tak drastis kembali ke bawah 3 persen. Dari proyeksi defisit tersebut, rasio utang diperkirakan tetap tinggi di kisaran 39 persen sampai 40 persen. Pasalnya, potensi penerimaan negara belum bisa maksimal ketika pemulihan masih berlangsung.

Kendati tak bisa menyulap rasio utang dan defisit APBN dengan cepat, Febrio mengklaim kondisi Indonesia masih jauh lebih baik dari negara-negara lain. 

Baca juga : Jokowi Pengen Rencana Vaksinasi Dibuat Detail

“Rasio utang kita cuma 30 persenan, negara berkembang lainnya rata-rata 50 persen ke atas. Banyak negara yang 60 persen, 70 persen. Komparasi ini penting karena menyangkut kredibilitas fiskal," terangnya.

Ekonom Core, Piter Abdullah menjelaskan, kenaikan utang merupakan buntut dari melebarnya defisit yang ditimbulkan berbagai stimulus fiskal. Seperti, penerimaan pajak yang susut, sementara belanja pemerintah terus meningkat. 

Baca juga : Sinergi PLN-KPK Berlanjut, Lebih Dari Rp 1 Triliun Aset Negara Berhasil Diamankan

Piter menganggap, kejadian ini lumrah. Fenomena kenaikan utang pemerintah hampir terjadi di semua negara. Terlebih, sejumlah pemerintah dari berbagai negara tak henti-hentinya berupaya mengatasi pandemi Covid-19.

Piter meyakini, pemerintah sudah berhitung secara matang soal utang. "Sepanjang sejarah utang, pemerintah selalu mampu membayar utang, tanpa membebani masyarakat. Belum pernah terjadi pemerintah meminta rakyat membayar utang pemerintah," ucapnya. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.