Dark/Light Mode

Beberkan Indikator Pemulihan Ekonomi

Airlangga Pede RI Keluar Dari Resesi

Minggu, 20 Desember 2020 08:29 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah pede Indonesia akan keluar dari resesi ekonomi. Salah satu indikatornya, membaiknya permintaan konsumsi rumah tangga.

Jelang tutup tahun, lembaga keuangan internasional, World Bank atau Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini, yang awalnya diperkirakan mengalami kontraksi -1,6 persen menjadi -2,2 persen. World Bank juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi 2021, dari sebelumnya 4,7 persen menjadi 3,1 persen. 

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto tak menampik jika pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2020 berpeluang tertekan hingga minus 2 persen dengan batas atas 0,6 persen. “Dengan proyeksi itu, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi tahun ini masih terkontraksi,” ungkap Airlangga. 

Berita Terkait : Menko Airlangga: Jangan Lengah, Patuhi Selalu 3 M!

Namun demikian, Airlangga menilai, capaian kuartal IV-2020 itu, menunjukkan perekonomian mengalami perbaikan. Indonesia telah lampaui titik terendah atau rock bottom di kuartal II (-5,32 persen), dan lebih tinggi di kuartal III (-3,49 persen). “Ada harapan Indonesia keluar dari resesi,” ungkapnya. 

Perbaikan itu, lanjut Airlangga, bisa dilihat dari kenaikan permintaan domestik rumah tangga di periode Oktober-Desember 2020. Selain itu, inflasi juga mulai menunjukkan kenaikan dari beberapa bulan lalu. 

Airlangga meyakini, pemulihan ekonomi akan berlanjut di tahun depan. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh positif 5 persen. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan pemerintah tahun ini yang minus 1,7 persen hingga minus 0,6 persen. 

Berita Terkait : Airlangga Senang

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah terus berupaya menggenjot aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan momentum hari raya Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru). Namun begitu, ditegaskannya, pemerintah tetap menjaga agar tidak ada peningkatan jumlah kasus Covid-19. “Aktivitas masyarakat bisa tetap berjalan selama Nataru, tentu dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan,” ujar Ani-sapaan akrab Sri Mulyani. 

Ani menuturkan, dalam mengejar pertumbuhan ekonomi, masalah pandemi Corona, tidak boleh dikesampingkan. “Negara yang paling maju pun harus melakukan langkah-langkah yang luar biasa seiring dengan peningkatan kasus Covid-19 yang masih terus melonjak,” ungkapnya. 

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ralph Van Doorn menilai, pemulihan ekonomi di Indonesia masih lemah hingga kuartal keempat tahun ini. Oleh sebab itu, Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi RI di akhir tahun diproyeksi masih terkontraksi 2,2 persen. Walau begitu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Indonesia di 2021 bisa mencapai 4,4 persen. Dan, untuk skenario terburuknya, berada di angka 3,1 persen. [NOV]