Dark/Light Mode

Selama Bulan Ramadan, 5 Komoditas Pangan Ini Harganya Bisa Selangit

Rabu, 14 April 2021 03:15 WIB
Ilustrasi kenaikan harga pangan di bulan Ramadan. (Foto: Antara)
Ilustrasi kenaikan harga pangan di bulan Ramadan. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah dan masyarakat perlu mewaspadai adanya kenaikan harga pangan selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Siklus tahunan ini kembali berulang di 2021 dan terdapat lima komoditas pangan yang harganya konsisten tinggi sejak akhir 2020.

Kenaikan harga pangan tentu akan memberatkan masyarakat, terutama mereka yang mata pencahariannya terdampak pandemi, karena harus membayar lebih mahal untuk pemenuhan kebutuhan pangannya.

Berdasarkan data dan pantauan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), lima komoditas yang harganya tinggi secara terus menerus sejak bulan November 2020 adalah cabai rawit, cabai merah, bawang putih, bawang merah dan daging sapi.

Walaupun terdapat sedikit penurunan antara periode November 2020 hingga bulan ini, harga lima komoditas ini terpantau tetap tinggi.

“Pergerakan harga bisa menjadi parameter dalam melihat ketersediaan komoditas pangan. Pemerintah tentu perlu mengambil langkah strategis untuk menstabilkan harga komoditas pangan yang harganya fluktuatif. Tidak perlu menunggu harga tinggi,” jelas Peneliti CIPS Indra Setiawan.

Berita Terkait : Selama Bulan Ramadan, Penceramah Diminta Beri Materi Yang Menenangkan

Ia menambahkan, harga cabai rawit terus menerus mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi terlihat terjadi di pertengahan hingga akhir bulan Maret 2021.

Akibatnya, harga cabai rawit menjelang Ramadan cenderung lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya. Selain karena curah hujan yang tinggi, kenaikan harga ini disinyalir terjadi akibat hasil panen yang terserang virus.

Saat ini harga cabai rawit adalah Rp 70.400 per kilogram. Sementara itu, harga cabai merah terlihat fluktuatif dari waktu ke waktu. Titik tertinggi harga cabai merah terjadi di bulan Desember yang menyentuh angka Rp 59.500,00.

"Setelah itu ada penurunan dan harga kembali naik menjelang Ramadan. Tingginya harga dibanding bulan November ini masih akibat curah hujan yang tinggi di awal tahun yang mengganggu panen cabai merah di Indonesia," katanya.

Saat ini lanjut Indra, harga cabai merah Rp 52.350. Sebagaimana yang terjadi di awal pandemi tahun lalu, harga bawang putih naik cukup signifikan menjelang Ramadan.

Baca Juga : Wamenag: Ongkos Dan Kuota Haji Segera Diatur

Harga bawang putih juga berada pada kisaran Rp 30.000,00 setelah sebelumnya berada di level Rp 27.000-29.000,00.

Bawang putih merupakan komoditas yang sebagian besar didapatkan dari impor. Meskipun belum jelas alasan kenaikan harga bawang putih, kompleksnya proses impor bawang putih dapat menjadi salah satu penyebab kenaikan harga tersebut.

”Proses importasi membutuhkan SPI dan juga RIPH yang pengurusannya membutuhkan waktu yang tidak singkat. Sementara kenaikan harga perlu segera direspon supaya tidak terjadi kelangkaan,” tambahnya.

Menurutnya, harga daging sapi terlihat mengalami kenaikan yang signifikan di hari-hari menjelang Ramadan. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi semenjak bulan November 2020.

"Harga daging sapi yang sebelumnya berada di kisaran Rp 118.000 hingga Rp 119.000 kini naik tajam ke Rp 122.000," kata Indra.

Baca Juga : Ke Angela Merkel, Jokowi Lapor Kondisi Covid-19 di Tanah Air Membaik

Menurutnya, kenaikan terjadi, salah satunya, akibat permintaan terhadap daging sapi yang naik menjelang Ramadan. Hal yang tidak berbeda jauh terjadi pada protein hewani lainnya.

Sementara komoditas daging ayam lanjut Indra, terlihat mengalami fluktuasi harga dari bulan November 2020. Namun demikian, menjelang Ramadan harga daging ayam naik drastis dan menuju level tertinggi di lima bulan terakhir.

Salah satu penyebab kenaikan harga ini adalah naiknya harga pakan, seperti halnya yang terjadi pada telur ayam. Kenaikan harga pakan ini menyebabkan naiknya biaya produksi.

"CIPS menyebutkan bahwa pakan menyumbang hampir 57 persen total biaya produksi ayam broiler dan 72 persen pada produksi ayam petelur,” jelas Indra.

Penelitian CIPS merekomendasikan, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengimplementasikan sistem perizinan impor otomatis atau automatic import licensing import untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
 Selanjutnya