Dark/Light Mode

Bos BI: ASEAN Sepakat Perkuat Ketahanan Ekonomi

Selasa, 4 Mei 2021 11:43 WIB
Gubernur Bank Indonesia. (Foto: ist)
Gubernur Bank Indonesia. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati hadir pada Pertemuan ke-24 Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN+3 yang digelar secara virtual, Senin (3/5).

Dalam pertemuan tersebut, Perry menggarisbawahi, adanya kesepakatan terkait pentingnya peningkatan kerja sama keuangan regional, untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan keuangan di kawasan dalam menghadapi Covid-19. Pertemuan juga sepakat meningkatkan kesiapan memasuki masa pascapandemi (post-pandemic era). 

“BI telah melakukan berbagai kebijakan yang diperlukan untuk mendorong pemulihan ekonomi. Antara lain, melalui penurunan suku bunga kebijakan menjadi 3,5 persen yang merupakan tingkat suku bunga terendah sepanjang sejarah,” ucap Perry dalam keterangan, Selasa (4/5).

Baca Juga : Menteri Sandi Minta Pelaku UMKM Aceh Manfaatkan Ekosistem Digital

Selain itu, Bank Sentral juga melakukan quantitative easing untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar. Serta melakukan stabilisasi nilai tukar sesuai dengan fundamental dan mekanisme pasar. 

Dalam mendukung pemulihan ekonomi domestik, BI juga menerapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif, dan mendorong percepatan digitalisasi ekonomi dan keuangan.

Diketahui, pertemuan tersebut menyambut baik penguatan kerja sama keuangan yang dituangkan dalam Amandemen Chiang Mai Initiative Multilateralisation (CMIM) yang mulai berlaku sejak 31 Maret 2021. 

Baca Juga : Sudah 90 Persen, Bendungan Ladongi Di Sultra Rampung Akhir 2021

Penguatan kerja sama CMIM mencakup peningkatan porsi fasilitas CMIM IMF De-Linked Portion (IDLP) dari 30 persen menjadi 40 persen. Dan pemberian fleksibilitas dalam pemanfaatan kerja sama CMIM dalam mata uang lokal. 

Penggunaan mata uang lokal ini dilakukan dengan prinsip voluntary and demand driven. Selain itu, negara-negara anggota juga menyambut baik ditandatanganinya Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Agreement sebagai milestone pendorong perdagangan dan investasi di kawasan. 

Negara-negara anggota mengharapkan agar, perjanjian tersebut dapat segera berlaku efektif, guna semakin mendukung integrasi ekonomi kawasan.

Baca Juga : Menag : Yang Tertib Ya !

Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh beberapa lembaga internasional, yaitu ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO), Asian Development Bank (ADB), dan International Monetary Fund (IMF), sebagai mitra ASEAN+3. 

Kehadiran lembaga-lembaga tersebut dimaksudkan untuk memberikan pandangan mengenai kondisi ekonomi dan keuangan terkini, baik regional maupun global, serta memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diambil untuk mengatasi dampak dari pandemi Covid-19. [DWI]