Dark/Light Mode

Utang Tembus 6.400 Triliun

Sri Mulyani Anggap Masih Kecil

Rabu, 5 Mei 2021 07:58 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Instagram/smindrawati)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Foto: Instagram/smindrawati)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jumlah utang pemerintah semakin menggunung. Per Maret 2021, sudah tembus Rp 6.445,07 triliun. Meski begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menganggap, jumlah itu masih kecil.

Kenaikan utang drastis terjadi pada dua tahun terakhir. Tahun lalu, ada tambahan utang sebesar Rp 1.226,8 triliun. Sedangkan tahun ini, tambahannya mencapai Rp 1.177,4 triliun. Hal ini terjadi karena pendapatan negara berkurang akibat pandemi, dan belanja semakin besar untuk pemulihan kesehatan dan ekonomi.

Dengan jumlah tadi, rasio utang pemerintah sudah mencapai 41,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini memang masih di bawah batas yang diizinkan Undang-Undang Keuangan Negara, yakni 60 persen terhadap PDB. 

Berita Terkait : Menkeu Bilang, Bisa Untuk 254 Kali Renovasi Istiqlal

Atas hal itu, Sri Mul merasa, utang Indonesia relatif lebih kecil dibandingkan negara lain. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini berjanji akan mengelola utang tersebut dengan hati-hati.

"Meskipun kita dalam situasi relatif lebih kecil dibanding negara lain, dari sisi total defisit maupun rasio defisit, dan total utang maupun rasio utang terhadap PDB, namun kita tetap harus hati-hati," katanya, dalam Musrenbangnas 2021, kemarin.

Sri Mul sebenarnya tidak bisa menutupi kekhawatiran dengan angka tersebut. Apalagi, tren kenaikan suku bunga global akan berdampak pada jumlah utang yang harus dibayar negara. Agar tetap produktif, ia berjanji hasil utang ini akan mengalir ke pembiayaan yang inovatif, mendukung kedalaman pasar, dan mempermudah akses pembiayaan UMKM.

Baca Juga : Waspada, Jangan Panik Ya

Anggota Komisi XI DPR Willy Aditya mengamini, utang Indonesia lebih kecil dari negara lain, terutama dengan negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Meski begitu, ia berharap posisi utang saat ini tidak dijadikan keunggulan. Sebab, pondasi ekonomi Indonesia berbeda jauh dengan Jepang atau Amerika. 

"Sektor konsumsi yang menjadi andalan PDB kita harus diseimbangkan dengan sektor produksi yang terus menguat. Ini yang menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah," ulasnya saat dihubungi Rakyat Merdeka, tadi malam.

Politisi muda NasDem ini menekankan, utang memang digunakan untuk sektor produktif. Di saat kontribusi pajak tertekan, utang menjadi langkah yang rasional. Namun, perlu diingat, pemerintah juga perlu mendatangkan investasi untuk menyeimbangkan utang dengan tindakan ekonomi yang produktif.

Baca Juga : Presiden 3 Periode Tak Melanggar Demokrasi

Anggota Komisi XI DPR Hendrawan Supratikno mengatakan, bila tolok ukurnya PDB, jumlah utang saat ini memang masih aman. Namun, hal ini tidak lantas dijadikan alasan terus berutang. Berbeda jika takarannya adalah ekspor, APBN, atau penerimaan pajak. Sebab itu, ia menganggap utang harus dikaitkan dengan penggunaan dan pengembaliannya.
 Selanjutnya