Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Kebutuhan Listrik 2060 Diprediksi Naik 5 Kali Lipat, Ini Persiapan PLN
Kamis, 29 Juli 2021 13:37 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT PLN (Persero) akan meningkatkan investasi yang diarahkan kepada pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk mendorong pencapaian nol emisi karbon atau net zero emission pada 2060.
Wakil Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, mengungkapkan proyek penambahan pembangkit ke depan PLN akan lebih fokus pada pembangkit energi baru terbarukan (EBT).
Saat ini, PLN tengah mendorong transisi energi dan dekarbonisasi dengan strategi bertahap guna mencapai target nol emisi karbon pada 2060.
Baca juga : Aturan Sektor Esensial-Kritikal Mau Direvisi, Ini Kriterianya
"PLN akan mulai memensiunkan generasi pertama PLTU (subcritical) pada 2030 dan dilanjutkan pada tahun berikutnya, sehingga pada 2060 seluruh PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) digantikan pembangkit berbasis EBT," kata Darmawan dalam dalam diskusi daring "Managing Megaprojects", Rabu (28/07/2021).
Maka dari itu, dalam tahun-tahun mendatang akan banyak megaproyek PLN untuk membangun pembangkit EBT akan mulai bermunculan.
Meskipun saat ini kondisi ketenagalistrikan nasional tengah kelebihan pasokan, namun PLN berkomitmen akan terus meningkatkan bauran EBT sesuai dengan target yang dicanangkan.
Baca juga : 3 RS Dikonversi Untuk Tangani Covid, Ini Kesiapannya
"Dengan asumsi pertumbuhan konsumsi listrik 4,6 persen, maka kebutuhan kelistrikan pada 2060 sebesar 1.800 TWh. Berarti akan ada penambahan kapasitas pada 2060 sebesar 1.500 TWh atau lima kali lipat dari kapasitas listrik di tahun ini sebesar 300 TWh," ungkap Darmawan.
Melihat kondisi tersebut, direncanakan penambahan kapasitas pembangkit untuk menutup selisih kebutuhan dan pasokan listrik akan didominasi dengan EBT.
"Namun bukan berarti PLN akan membangun pembangkit baru dan menutup pembangkit lama," imbuhnya.
Baca juga : Ayo Cek Nama Kamu Nyantol di Universitas Mana
Beberapa dari pembangkit yang sudah berjalan akan program co-firing, memasifkan penggunaan kendaraan listrik, mengonversi pembangkit listrik primer tenaga diesel dan batu bara dengan pembangkit EBT secara bertahap, dan yang lainnya.
Tentunya, tegas Darmawan, PLN harus tetap mempertimbangkan kondisi supply and demand agar kondisi oversupply yang saat ini terjadi dapat membaik. Karena dengan kondisi saat ini, keuangan PLN cukup terbebani karena masih harus membayar listrik dari pihak ketiga yang hanya diutilisasi sebagian.
"Pemerintah menetapkan bahwa PLN harus membayar semua listrik yang dihasilkan oleh pihak ketiga. Oleh karena itu, saat ini PLN harus cermat dalam menghitung dan mengalokasikan pasokan listrik agar tidak memberikan dampak yang jauh lebih buruk bagi keuangan," terang Darmawan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya