Dewan Pers

Dark/Light Mode

Herd Immunity Diprediksi Bakal Tercapai Maret 2022

Jumat, 19 Maret 2021 07:35 WIB
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. (Foto : Istimewa)
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. (Foto : Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Vaksinasi yang sudah digelar sejak Januari 2021 membuat pemerintah optimis bisa mengejar target herd immunity alias kekebalan kelompok. Herd immunity bakal tercapai pada Maret 2022.

Hal itu dikatakan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa. Menurutnya, proyek­si itu berasal dari jumlah peserta vaksin yang mencapai 181,5 juta orang.

Rinciannya, tenaga kesehatan 1,4 juta, petugas publik 17,4 juta, lanjut usia alias lansia 21,5 juta, masyarakat rentan 63,9 juta dan masyarakat lain 77,4 juta orang.

Herd immunity di Indonesia diperkirakan akan dicapai pada Maret 2022 atau 15 bulan setelah vaksinasi yang telah dimulai tahap pertama pada 14 Januari 2021,” ujar Suharso.

Kalau Indonesia bisa menyelesaikan vaksinasi terhadap 70 juta atau 39 persen dari 181,5 juta saja pada Juli 2021, hal ini bisa memberi sumbangan pemulihan ke ekonomi nasional. Ramalannya, ekonomi bisa mencapai 4,8 persen bila skenario itu tercapai pada tahun ini.

Berita Terkait : Aman Nyaman Naik Kereta Selama Pandemi, Tips Reisa

Tapi, kalau vaksinasi ke 70 juta orang baru tercapai pada September 2021, maka laju perekonomian kemungkinan cuma tumbuh 4,2 persen pada tahun ini.

Suharso juga meramalkan, pandemi Covid-19 masih akan berlangsung pada tahun de­pan. Soalnya, penanganan pandemi Covid-19 masih belum optimal. “Pencapaian target kesehatan belum optimal,” aku dia.

Hal ini, katanya, tercermin dari beberapa indikator. Pertama, pencegahan masih belum optimal. Screening test, trac­ing dan tracking masih terbatas. Kemudian, sistem surveilans pe­nyakit belum terintegrasi dan belum real time. Lalu, kapasitas pengujian di laboratorium lemah.

Kedua, fasilitas kesehatan dan farmasi serta alat kesehatan belum optimal. Masih terjadi kekurangan alat pelindung diri (APD), ruang isolasi dan alat tes, ruang rawat, ruang ICU, ruang isolasi mandiri, dan manajemen kasus lemah kare­na tata laksana kasus tidak jelas.

Ketiga, kapasitas tenaga kesehatan masih terbatas. Hal ini karena masih ada kekurangan jum­lah tenaga kesehatan dan banyak tenaga medis yang tertular dan meninggal akibat Covid-19. Keempat, pemanfaatan pembiayaan kesehatan belum efisien.

Berita Terkait : Terima Kasih Untuk Semua Perawat, Kalian Luar Biasa...

Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menilai, target pemerintah membentuk kekebalan kelompok melalui vaksinasi terhadap 170 juta populasi penduduk mustahil tercapai dalam waktu dekat.

“Mau 18 bulan, mau satu ta­hun, kalau tim kita mengatakan nggak mungkin, itu mimpi, ilusi,” tegas Pandu.

Alih-alih membuat herd immunity sebagai patokan, Pandu berpendapat, hal yang lebih memungkinkan adalah pengendalian pandemi dengan cara menekan angka reproduksi virus atau R0.

“Jadi (pengendalian) angka reproduksi menjadi tujuan, bu­kan herd immunity,” tegas dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI ini.

Angka reproduksi merupakan rata-rata jumlah orang yang menularkan virus Corona. Ia mencontohkan, ketika virus Corona baru ditemukan di Indonesia tahun lalu, jumlah orang yang menularkan baru sekitar dua hingga tiga orang. “Itu R0 na­manya,” terang Pandu.

Berita Terkait : Semoga Saja Target Vaksinasi 1 Juta Orang Per Hari Tercapai

Selanjutnya, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai diterapkan, angka reproduksi virus mencapai R1. Menurut Pandu, jika angka reproduksi di bawah R1, maka laju penamba­han kasus positif Covid-19 akan menurun. “Tinggal dipertahankan sebulan saja pembatasan sosial­nya,” tutur Pandu.

Namun, pemerintah justru didesak melonggarkan PSBB dengan dalih ekonomi yang membuat interaksi penduduk kembali tinggi. [DIR]