Dark/Light Mode

Inflasi AS Rendah, Rupiah Rontok Lagi

Rabu, 15 September 2021 09:40 WIB
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)
Rupiah dan dolar AS. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pagi ini rupiah kembali melemah. Rupiah dibuka Rp 14.257 per dolar AS atau melemah 0,07 persen dibanding perdagangan kemarin di level Rp 14.247 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya juga loyo terhadap dolar AS. Won Korea Selatan turun 0,22 persen, baht Thailand melemah 0,12 persen, yuan China turun 0,06 persen, ringgit Malaysia melemah 0,03 persen, dan dolar Hong Kong minus 0,01 persen.

Berita Terkait : Rupiah Masih Loyo Hadapi Dolar AS

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang saingannya terpantau menguat 0,07 persen ke level 93,023. Sementara nilai tukar rupiah terhadap euro terpantau melemah cukup dalam sebesar 0,32 persen ke level Rp 16.822, terhadap poundsterling Inggris juga turun 0,24 persen ke level Rp 19.659, dan terhadap dolar Australia melemah 0,13 persen ke level Rp 10.415.

Vice President Economist PermataBank Josua Pardede memproyeksi, nilai tukar rupiah pada hari ini akan melemah, lantaran pergerakan rupiah cenderung didominasi oleh hasil dari inflasi AS bulan Agustus 2021 yang dirilis justru tak sesuai ekspetasi AS. Inflasi AS mencapai 5,3 persen pada Agustus 2021 atau lebih rendah dari 5,4 persen pada Juli 2021.

Berita Terkait : Dolar Ngamuk, Rupiah Makin Nggak Bertenaga

Rendahnya inflasi AS, menciptakan ketidakpastian tentang waktu pengurangan pembelian aset (tapering) oleh Federal Reserve. The Fed akan mengadakan pertemuan kebijakan moneter dua hari pada minggu depan, dengan investor tertarik untuk mengetahui apakah pengumuman tapering akan dibuat.

“Tapering cenderung menguntungkan dolar karena menunjukkan The Fed selangkah lebih dekat menuju kebijakan moneter yang lebih ketat. Ini juga berarti bank sentral akan membeli lebih sedikit aset utang, secara efektif mengurangi jumlah dolar yang beredar,” terangnya, Rabu (15/9).

Berita Terkait : Data Ekonomi AS Positif, Rupiah Makin Tak Berkutik

Angka inflasi yang lebih lemah menyebabkan investor mendorong kembali taruhan bahwa Fed dapat bergerak lebih cepat untuk mengurangi pembelian obligasi. Melemahnya inflasi akan membuat The Fed tidak bersemangat untuk bergerak sebelum waktunya.

Dari dalam negeri, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 akan membukukan surplus sebesar 2,68 miliar dolar AS atau meningkat dari bulan sebelumnya. Ia memperkirakan rupiah akan melemah, dan bergerak di kisaran Rp 14.225- Rp 14.325 per dolar AS. [DWI]