Dewan Pers

Dark/Light Mode

Beli Mobil Dahulu, Rumah Ngontrak Aja

Jumat, 3 September 2021 06:25 WIB
Ngopi - Beli Mobil Dahulu, Rumah Ngontrak Aja
Catatan :
Redaktur

RM.id  Rakyat Merdeka - Pola investasi pasangan muda zaman now memang tidak bisa ditebak. Lebih tepatnya lagi, bertolak belakang dengan pola investasi zaman old. Mungkin.

Adanya perbedaan pola investasi ini saya ketahui setelah beberapa kali berkomunikasi dengan sejumlah pasangan muda yang berminat pada rumah kontrakan yang saya pasarkan. Mereka umumnya mencari rumah kontrakan sebagai tempat tinggal setelah menikah.

Berita Terkait : Nggak Usah Berlebihan

Beberapa kali bertemu dengan pasangan muda zaman now, pertanyaan yang selalu dilontarkan kepada saya adalah: “Tempat parkir mobilnya di mana?” atau “Apakah ada tempat sewa parkir di sekitar sini?”

Secara umum, tidak ada yang salah dengan pertanyaan-pertanyaan terkait fasilitas parkir dari para pasangan muda. Tapi, saya tergelitik setelah melihat mobil-mobil pribadi mereka saat datang untuk survei kontrakan. Harganya rata-rata ratusan juta untuk keluaran terbaru dan puluhan juta untuk sekennya.

Berita Terkait : Pengalaman Urus STNK Di Samsat Saat PPKM

Saya hitung-hitung, harga-harga mobil para pasangan muda yang sudah berkunjung ke rumah kontrakan sebetulnya bisa untuk DP sebuah rumah sederhana di kota-kota satelit, seperti Depok, Kabupaten Bogor, ataupun Tangerang Selatan. Cicilannya pun tidak beda jauh dengan cicilan mobil.

Dengan memiliki rumah sendiri, tentunya fasilitas rumah, seperti tempat parkir, hingga dekorasinya bisa dikreasikan sendiri. Soal kendaraan, menurut saya, sepeda motor sudah cukup jika hanya digunakan untuk berangkat kerja atau berpergian jarak pendek. 

Berita Terkait : Untung Sudah Vaksin

Itulah, saya jadi berpikiran apakah kebutuhan tersier, seperti mobil, kini lebih didahulukan para pasangan muda. Sementara, soal papan bisa dipecahkan dengan mengontrak. Bila benar seperti itu, pola investasinya jelas bertolak belakang dengan pola investasi zaman old yang lebih mengutamakan kebutuhan papan.

Meskipun begitu, saya bisa saja salah. Pasalnya, kendaraan pribadi seperti mobil, kini mulai bergeser posisinya menjadi penyambung hidup alias sumber pendapatan. Itu terjadi setelah aplikasi transportasi daring meledak di Indonesia. Tapi, lagi-lagi, mana yang benar dan salah, tentu butuh pendalaman. [Susilo Yekti/Wartawan Rakyat Merdeka]