Dark/Light Mode

Jokowi Minta Stop Ekspor Bahan Mentah, Indef: Bisa Tingkatkan Ekonomi

Rabu, 15 September 2021 17:23 WIB
Peneliti Indef Eko Listiyanto. (Foto: ist)
Peneliti Indef Eko Listiyanto. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi baru saja secara resmi meletakkan batu pertama pabrik industri baterai kendaaraan listrik PT HKML Battery Indonesia.

Pembangunan pabrik tersebut juga menjadi keseriusan pemerintah, dalam melakukan hilirisasi industri. Sehingga ke depan, Indonesia diharapkan tak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi menjadi produk jadi.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto melihat, langkah ini perlu mendapat dukungan. Hal ini juga menjadi langkah bargaining dari pemerintah dalam mewujudkan hilirisasi industri.

Berita Terkait : Survei CISA: Mayoritas Tolak Wacana Presiden 3 Periode

"Ini bisa menjadi gambaran posisi bargaining kita cukup kuat membawa investor masuk ke Indonesia. Dari pada kita kirim bahan mentah dan memproduksinya di luar tentu butuh biaya yang lebih tinggi, serta tidak efisien," katanya kepada Rakyat Merdeka, Rabu (15/9).

Hilirisasi dengan membawa investor ini juga mencakup transfer teknologi, sehingga ke depan diharapkan Indonesia bisa memproduksi barang jadi. Selanjutnya kata Eko, dengan melakukan hilirisasi bisa menjadi nilai tambah (value added).

Selanjutnya, sambung Eko, bagaimana Indonesia ke depannya bisa masuk ke dalam rantai global (global value chain). Indonesia bisa memanfaatkan rantai pasok Hyundai dalam mengirim produk hilir. Karena untuk menguasai dari hulu ke hilir sekaligus kata Eko, tidaklah mudah.

Berita Terkait : Sertifikat Vaksin Jokowi Bocor di Medsos, Begini Respon Istana

Namun yang terpenting, upaya ini juga mesti diperkuat dengan adanya komunikasi kerja sama bilateral dengan negara yang menjadi tujuan ekspor produk hilir. Terutama posisi Indonesia yang bisa berkompetisi dengan produsen negara lain, atau justru bisa menghasilkan sumber rantai bahan baku baru.

"Masuknya Indonesia nanti ke rantai pasok global, akan meningkatkan permintaan di pasar global. Perlu diupayakan pendekatan secara parelel, tak hanya di luar tapi juga di dalam, bagaimana akses pasar dan investor pembeli harus menjadi bagian penting," imbuhnya.

Selain itu harus dibuat aturan yang memang mendukung percepatan hilirisasi di Tanah Air. Keberadaan pabrik baterai Hyundai ini diharapkan Eko, juga menjadi contoh investor lain dalam 'memaksa' masuknya Penanaman Modal Asing (PMA) ke Indonesia.

Berita Terkait : Jokowi Minta ISEI Tetap Aktif Dorong Percepatan Pemulihan Ekonomi

"Yang tadinya cuma impor barang mentah dari indonesia di bawa ke negara lain kita baik ajak mereka masuk dan berinvestasi di sini. Tentu ongkos logistik lebih murah bisa menyerap tenaga kerja di dalam negeri. Yang kemudian hilirisasi yang masif bisa menciptakan padat modal dan padat kerja ke depannya di teknologi. Sehingga pundi lebih kuat masuk ke cadang devisa (cadev) kita," pungkasnya. [DWI]