Dewan Pers

Dark/Light Mode

RS YARSI Menjadi Rumah Sakit Syariah Pertama di DKI Jakarta

Rabu, 12 Januari 2022 21:02 WIB
RS YARSI Menjadi Rumah Sakit Syariah Pertama di DKI Jakarta

RM.id  Rakyat Merdeka - Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) menetapkan RS YARSI sebagai rs syariah pada 29 Desember 2021. DSN-MUI menyerahkan sertifikat syariah-nya kepada direksi RS YARSI di Auditorium lantai 16, RS YARSI sesaat sebelum seminar kesehatan dengan tema "Mengenal RS SYARIAH dan Kewaspadaan Masyarakat Terhadap COVIDl9 varian Omicron," secara hybrid pada Rabu (12/1).

Direktur Utama RS YARSI, dr Mulyadi Muchtiar sangat bersyukur dengan keberhasilan pihaknya mendapat sertifikat syariah. "RS YARSI menjadi rumah sakit pertama di DKI Jakarta yang mendapatkan Sertifikasi RS Syariah," tuturnya.

Berita Terkait : Siap Lanjutkan Tradisi Juara, Berikut Susunan Pemain Jakarta Elektrik PLN

"Keberhasilan mendapat Sertifikat RS Syariah ini, tidak terlepas dari kerjasama seluruh tim Rumah sakit terutama owner RS YARSI, Dengan mengemban amanah tersebut kami berupaya untuk menjalankan syariah Islam dalam semua aspek pelayanan dan manajemen". Jelas Mulyadi pada media di Lobby lantai 2 RS YARSI Jakarta.

Salah satu bentuk pelayanan syariah RS YARSI, kata dia, adalah upaya menjaga akidah pasien. Petugas kesehatan akan mengupayakan pasien untuk tetap bisa beribadah sesuai kondisi dan kemampuan pasien. Selain itu, pasien yang hampir meninggal dunia akan diberikan bimbingan talqin sehingga bisa husnul khotimah.

Berita Terkait : Pagi Ini Rupiah Masih Perkasa

Menurutnya Pelayanan syariah juga dikemas dalam bentuk paket layanan. Misalnya Paket Persalinan Syariah yang seluruh tim terlibat adalah perempuan. "Termasuk paket tindakan lainnya yang sangat memperhatikan penjagaan aurat, privasi dan pelaksanaan fikih pasien dengan begitu, privasi dan kenyamanan pasien akan terjaga" ucap Mulyadi .

Prinsip syariah juga diberlakukan pada keperluan farmasi untuk pasien, seperti semua obat, makanan, cairan pembersih, dan linen yang digunakan sudah dijamin halal dan mendapatkan opini syariah dari Dewan Pengawas Syariah. "Jika terdapat obat yang mengandung unsur yang tidak halal, maka harus mendapatkan persetujuan (informed consent) dari pasien/keluarga tentang penggunaannya," ujarnya. 

Berita Terkait : Sean Menangi Kejurnas Reli Danau Toba Putaran Pertama, Bamsoet Ikut Happy

Selain pelayanan, lanjut dia, tata kelola RS YARSI juga sudah sesuai syariah. Mulai dari pengelolaan organisasi, keuangan, SDM, fasilitas, dan pemasaran sesuai dengan kaidah syariah. Meski memberikan pelayanan sesuai syariah, tapi RS YARSI akan tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien non-Muslim. Sebab, pelayanan syariah tak membedakan pasien berdasarkan agama, suku, golongan maupun rasnya.

Kedepan, lanjut Mulyadi, RS YARSI akan membuat klinik Jepang, Korea dan WNA dari timur tengah sehingga pelayanan kesehatan tidak hanya bagi umat Islam atau masyarakat Indonesia tapi mancanegara, hal ini sesuai dengan prinsip Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, memastikan terwujudnya kedamaian dan keselamatan seluruh umat manusia, pungkasnya. [ARM]