Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sumber Protein Murah, Guru Besar IPB: Lestarikan Tradisi Konsumsi Tempe Dan Tahu
Selasa, 11 November 2025 12:55 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Konsumsi protein, baik yang berasal dari hewani maupun nabati, menjadi hal penting untuk mendukung proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam upaya menurunkan angka stunting di Indonesia.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, MS, mengungkapkan, protein merupakan zat gizi utama yang berperan dalam pembentukan sel dan jaringan tubuh anak.
“Masalah stunting yang masih terjadi pada balita dan anak usia sekolah antara lain disebabkan oleh rendahnya konsumsi protein, terutama yang berasal dari pangan hewani seperti susu, daging, dan ikan,” kata Prof Ali dalam keterangan tertulisnya, Selasa (11/11/2025).
Prof Ali menambahkan, rendahnya tingkat konsumsi pangan hewani di masyarakat menjadi salah satu faktor utama kekurangan asupan protein.
“Kalau kita melihat data, konsumsi susu, daging dan ikan di Indonesia masih rendah. Padahal kekurangan protein akan berdampak langsung terhadap pertumbuhan anak,” ujarnya.
Baca juga : Soroti Proyek Mangkrak, Pram Konsultasi Ke KPK
Prof. Ali turut menyoroti peran penting dari pangan nabati seperti kacang kedelai, yang juga memiliki kandungan protein tinggi dan telah lama menjadi bagian dari budaya makan masyarakat Indonesia.
“Kedelai yang diolah menjadi tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang digemari masyarakat. Ini keberuntungan bagi kita karena sumber nabati ini harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan protein hewani,” ucapnya.
Meski demikian, Prof. Ali mengingatkan bahwa kualitas protein hewani masih lebih baik dibandingkan protein nabati.
“Tahu dan tempe bagus, tetapi kandungan asam aminonya tidak bisa disamakan dengan protein hewani seperti daging atau susu. Idealnya, keduanya dikonsumsi bergantian agar asupan protein tetap seimbang,” ujarnya.
Prof. Ali juga menekankan bahwa susu kedelai bisa menjadi solusi bagi anak-anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi atau intoleransi laktosa.
Baca juga : Guru Besar UGM Desak Pemerintah Terapkan Cukai Minuman Berpemanis
“Dalam kasus tertentu, susu protein nabati seperti susu kedelai bisa menjadi alternatif yang baik,” ungkapnya.
Dia mengajak masyarakat untuk kembali menghargai kearifan lokal yang telah mengenal tempe sejak abad ke-18.
“Tempe adalah makanan fermentasi yang bergizi, murah dan relevan untuk masyarakat Indonesia. Tradisi konsumsi tempe dan tahu harus dilestarikan sebagai bagian dari pola makan bangsa,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) konsumsi kedelai nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 2,75 juta metrik ton di 2025.
Tingginya kebutuhan tersebut salah satunya karena pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca juga : Satgas Garuda Merah Putih-II Tiba Usai Tuntaskan Misi Kemanusiaan Gaza
Sebagian besar kebutuhan kedelai nasional tersebut saat ini belum bisa dipenuhi dari hasil produksi pertanian dalam negeri.
Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi pengembangan produksi kedelai lokal di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya