Dewan Pers

Dark/Light Mode

SDM Unggul Dan Literasi Sejak Dini Kunci Indonesia Maju

Selasa, 7 Desember 2021 15:07 WIB
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi (kanan) dalam Talk Show Publik Perpusnas Meniti Jalan Literasi Untuk Wujudkan SDM Unggul Indonesia Maju, secara daring, Selasa (7/12). (Foto: Dok. Perpusnas)
Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi (kanan) dalam Talk Show Publik Perpusnas Meniti Jalan Literasi Untuk Wujudkan SDM Unggul Indonesia Maju, secara daring, Selasa (7/12). (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keberadaan perpustakaan semakin sentral di era teknologi yang kian berkembang. Dengan kondisi ini, Perpustakaan Nasional (Perpusnas), yang menjadi motor gerakan budaya, tak henti-hentinya mengkampanyekan gerakan literasi agar menghasilkan SDM unggul untuk Indonesia maju.

Dalam Talk Show Publik Perpusnas, yang mengangkat tema “Meniti Jalan Literasi Untuk Wujudkan SDM Unggul Indonesia Maju”, yang diselenggarakan secara daring, Selasa (7/12), Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Deni Kurniadi menyampaikan sejumlah pencapaian Perpusnas dalam ikut memajukan anak-anak muda, generasi baru Indonesia agar semakin hebat. Di tengah masa pandemi seperti saat ini, ia mengatakan bahwa literasi sangat ampuh membantu memulihkan ekonomi dan reformasi sosial.

Gerakan literasi berbasis inklusi sosial yang belakangan ini menjadi nadi utama Perpusnas, berdiri di atas empat sendi. Yakni tersedianya akses kepada sumber-sumber bahan bacaan terbaru; kemampuan memahami secara tersirat dan tersurat; kemampuan menghasilkan ide-ide, gagasan, kreativitas dan inovasi baru; dan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa yang bermanfaat bagi khalayak banyak, sesuai dengan Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Berita Terkait : Satgas Waspada Investasi Stop Operasi Rechain Digital Indonesia

Menurut Deni Kurniadi, literasi berbasis inklusi sosial menjadi kunci penting. Kini, perpustakaan di Indonesia tak lagi hanya sekadar menjadi pusat informasi bahan kepustakaan, tapi juga berkontribusi membangun masyarakat berpengetahuan melalui ikhtiar kolektif untuk menumbuhkan tradisi dan budaya baca masyarakat.

“Sebagai pusat ilmu pengetahuan, Perpusnas juga mampu mendorong inovasi dan kreativitas masyarakat. Juga, perpustakaan pengembangkan potensi literasi masyarakat sesuai dengan kebutuhan setempat. Perpustakaan juga adalah pusat kebudayaan, untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan,” jelasnya.

Ia juga menggarisbawahi bahwa perpustakaan kini juga sudah berkontribusi nyata pada penambahan pendapatan keluarga dan masyarakat melalui sejumlah kegiatan kreasi yang diselenggarakan di setiap daerah. Semua peran sentral ini kemudian membawa perpustakaan sebagai ruang berbagi pengalaman, ruang belajar kontekstual dan ruang berlatih keterampilan.

Berita Terkait : SoKlin Pewangi Dukung Wanita Muda Indonesia Tampil Percaya Diri

“Hal ini terbukti dari meningkatnya kunjungan pemustaka ke perpustakaan, peningkatan pelibatan masyarakat dalam kegiatan perpustakaan, dan peningkatan ekspos media terhadap aktivitas perpustakaan. Sebab, sebesar-besarnya kegiatan, jika tidak diekspos media, tidak akan dikenal dan dinilai oleh masyarakat,” bebernya.

Dalam masa transformasi ini, lanjut Deni, Perpusnas tak lagi hanya mengandalkan APBN dan APBD dalam menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat. Dana filantropis sudah bisa diberdayakan, termasuk juga CSR berbagai perusahaan juga sudah menyasar area ini, mendukung gerakan literasi semakin kuat.

Gerakan ini juga semakin dipermudah dan menyasar seluruh daerah di Indonesia. Sebab, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga turut mendukung gerakan literasi ini secara penuh, sesuai amanat undang-undang. “Saat ini, kita sudah punya total 164.610 perpustakaan berbagai jenis, meski jumlah terbesar sekitar 40 persen berada di Pulau Jawa. Tapi, kami terus dorong yang di luar Pulau Jawa juga bisa memiliki dan memanfaatkan perpustakaan dengan lebih maksimal,” katanya.

Berita Terkait : Sheila Dara, Cinta Sejati Vidi Aldiano

Buktinya, dari 34 provinsi di Indonesia, semuanya sudah memiliki Dinas Perpustakaan. Kemudian, dari 514 kabupaten/kota, sebanyak 493 Dinas Perpustakaan sudah dibentuk, dan sekitar 23 ribu perpustakaan desa sudah dibangun.

“Artinya, Perpustakaan Nasional sebagai pembina perpustakaan sudah tidak sendiri. Kita sudah punya partner dengan daerah, yang sama-sama mengembangkan,” lanjutnya.

Khusus untuk kebutuhan milenial yang lebih condong dengan kebutuhan audio visual, Perpusnas juga tak tinggal diam. Deni menerangkan, Perpusnas juga menyediakan kebutuhan itu, dengan menyediakan akses digital seperti aplikasi dan buku-buku digital. “Jadi pada masa pandemi ini, karena masyarakat tidak bisa datang ke perpustakaan, melalui layanan digital, perpustakaan yang akan datang ke masyarakat,” sambungnya.
 Selanjutnya