Dewan Pers

Dark/Light Mode

Tantangan Berat Pemerintah

Kemiskinan Ekstrem Seperti Kerak Nasi, Susah Dikerok...

Rabu, 15 Juni 2022 08:00 WIB
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat launching Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (14/6/2022). (Foto: Humas Kemenko PMK)
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat launching Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (14/6/2022). (Foto: Humas Kemenko PMK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Jokowi menargetkan tingkat kemiskinan ekstrem bisa mencapai nol persen pada 2024. Tentu saja, itu bukan tugas mudah.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengakui, penghapusan kemiskinan ekstrem merupakan tantangan sangat berat.

Kemiskinan ekstrem masih jadi pekerjaan rumah alias PR yang harus diselesaikan untuk menuju Indonesia Maju.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), kemiskinan ekstrem pada 2021 adalah 4 persen atau 10,86 juta jiwa. Sedangkan angka kemiskinan 26,5 juta atau 9,71 persen.

Jumlah kemiskinan ekstrem di Indonesia memang relatif kecil. Tapi, menurutnya, jumlah kecil itu tidak menjamin kemiskinan ekstrem lebih mudah diatasi. Justru yang kecil ini, disebut Muhadjir, adalah kerak dari piramida kemiskinan.

Berita Terkait : Menkominfo: Pemerintah Sediakan Program Stimulan Siapkan Talenta Digital

“Karena dia kerak, maka daya ungkitnya membutuhkan energi sumber daya yang ekstra,” ujar Muhadjir, saat launching Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem, di Kantor Kemenko PMK, kemarin.

Tak susah-susah memberi contoh, Muhadjir mengibaratkan kemiskinan sebagai sepanci nasi. Sedangkan kemiskinan ekstrem, sebagai intip atau kerak dari nasi. Jumlahnya sedikit, tetapi untuk dikerok, lebih sulit.

“Mengerok intip jauh lebih sulit daripada mengambil nasi yang di atasnya. Walaupun nasinya banyak ambilnya mudah. Tapi kalau sudah jadi intip, itu sulit untuk dikerok,” jelasnya.

Diingatkan eks Mendikbud itu, untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, perlu daya ungkit yang ekstra keras. Dibutuhkan kerja sama dan kekompakkan dari semua unsur terkait.

Keterpaduan dan sinergi program serta kerja sama antar kementerian/lembaga dan juga kekuatan di luar Pemerintah seperti organisasi filantropi bidang sosial kemasyarakatan, sangat diperlukan dalam mem­buat daya ungkit yang besar untuk menghapuskan kemiskinan ekstrem.

 

Berita Terkait : Antisipasi Omicron BA.4 Dan BA.5, Pemerintah Monitor Kapasitas RS-Obat

“Ini harus kita galang bersama untuk menjadi kekuatan besar. Sehingga target kita untuk menghapus kemiskinan ekstrem 2024 tercapai,” ujar mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Supaya tercapai target yang diharapkan, Pemerintah berfokus pada beberapa kegiatan kunci. Pertama, melalui bantuan sosial dan subsidi, yaitu kelompok program/kegiatan dalam rangka mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin ekstrem.

Kedua, melalui pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat miskin ekstrem,

Ketiga, pembangunan infrastruktur pelayanan dasar dalam rangka penurunan jumlah kantong-kantong kemiskinan.

Dalam mengambil langkah-langkah tersebut, harus dipastikan ketepatan sasaran dan integrasi program antar kementerian/lembaga, dengan melibatkan masyarakat agar fokus pada lokasi prioritas penghapusan kemiskinan ekstrem.

Berita Terkait : Pemerintah Siap Lindungi Identitas Seluruh Pelapor

Dia berharap, dengan kolaborasi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Pemda), dan organisasi filantropi bisa terbangun dan semakin kompak dalam upaya menghapuskan kemiskinan ekstrem di Indonesia.

“Mari kita bekerja sama memastikan setiap program kegiatan baik di pusat maupun daerah terkonvergensi dan tersinkronisasi. Fokus pada upaya percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem,” tegas menteri yang hobi olahraga lari ini.

Hadir di acara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Kepala BPS Margo Yuwono dan perwakilan dari kementerian lembaga lainnya.

Untuk diketahui, Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem telah ditetapkan pada tanggal 8 Juni 2022.

Inpres Nomor 4 Tahun 2022 telah mengamanatkan kepada 22 Kementerian, enam lembaga, dan Pemerintah Daerah (Pemda) untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai tugas, fungsi dan kewenangan masing-masing untuk melaku­kan percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem. ■