Dewan Pers

Dark/Light Mode

Manfaat Dirasakan Petani, Realisasi KUR Hingga 15 Juni 2022 Tembus Rp 46,6 Triliun

Kamis, 16 Juni 2022 15:47 WIB
Pemberian KUR Pertanian kepada para petani/Ist
Pemberian KUR Pertanian kepada para petani/Ist

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian dirasakan manfaatnya oleh petani. Hingga 15 Juni 2022, realisasi program KUR Pertanian mencapai Rp 46,6 triliun (51,8 persen) dari target Kementerian Pertanian (Kementan) dalam penyerapan KUR sebesar Rp 90 triliun.

Kementan pun meminta petani agar memanfaatkan KUR Pertanian untuk pengembangan budidaya pertanian mereka.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong petani memanfaatkan program KUR Pertanian dalam mengembangkan budidaya pertanian mereka.

Sebab, kata SYL, KUR Pertanian dapat membantu petani mengembangkan sektor pertanian dari hulu hingga hilir.

Berita Terkait : Pencairan PEN Capai Rp 95,13 Triliun Hingga 3 Juni 2022

"Oleh karenanya, manfaatkan program KUR Pertanian ini dengan baik. KUR Pertanian dapat mendorong petani 'naik kelas' dengan budidaya pertanian mereka," kata SYL.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Ali Jamil mengatakan, program KUR Pertanian digulirkan untuk membantu petani dalam rangka memperkuat permodalan dalam mengembangkan usaha pertaniannya. 

"Pemanfaatan program KUR Pertanian sangat berpengaruh dalam peningkatan produktivitas pertanian. KUR dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pra dan pascapanen," kata Ali.

Ali mengatakan, tingginya serapan KUR karena terbukti amat membantu dan sesuai dengan kebutuhan petani. 

Berita Terkait : Mendagri Izinkan Ridwan Kamil Di Luar Negeri Hingga 4 Juni 2022

“KUR sektor pertanian sejalan dengan target Presiden Joko Widodo agar perekonomian dasar masyarakat bergerak kembali. KUR membantu budidaya petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Ali. 

Dijelaskannya, dari jumlah Rp 45,6 triliun itu, sektor perkebunan menduduki peringkat pertama dalam hal penyerapan KUR pertanian sebesar Rp 16,018 triliun dengan 285.826 debitur. Selanjutnya adalah sektor tanaman pangan sebesar Rp 12,583 triliun dengan 363.237 debitur. 

Berikutnya adalah sektor peternakan sebesar Rp 8,167 triliun dengan 211.828 debitur, sektor hortikultura sebesar Rp 5,583 dengan 164.179 debitur, mixed farming (perkebunan, peternakan dan peternakan) sebesar Rp 3,661 triliun dengan 115.834 debitur dan jasa pertanian, peternakan dan perkebunan sebesar Rp 607 miliar dengan 13.960 debitur.

Menurut Ali, Ditjen PSP memiliki empat inovasi kebijakan KUR Pertanian. Pertama, KUR tanpa agunan menjadi Rp100 juta. Kedua, KUR cluster dengan perusahaan mitra. Ketiga, penundaan pembayaran pokok, perpanjangan jangka waktu dan penambahan limit di masa pandemi. Keempat, KUR untuk program Taxi Alsintan, KUR Industrialisasi dan Korporasi Pertanian serta KUR Integrated Farming.

Berita Terkait : Anggaran Pemilu 2024, Badan Adhoc Telan Rp 34,4 Triliun

Direktur Pembiayaan Pertanian Ditjen PSP Kementan Indah Megahwati menambahkan, tahun ini implementasi KUR Pertanian di lapangan diubah polanya dibanding tahun lalu. 

Sistem klaster tersebut dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan yang tengah menjadi program nasional.

"Tujuan pembentukan klaster ini adalah mengurangi hambatan, menciptakan ekosistem baru dari hulu sampai hilir yang terintegrasi secara digital, memudahkan petani mengakses KUR dan lainnya. Sementara dari sisi perbankan akan meningkatkan kepercayaan kepada petani," ujar Indah.

Dijelaskan Indah, dalam sistem tersebut ada klaster padi, klaster jagung, klaster sawit, klaster kopi, klaster jeruk, klaster hortikultura, klaster tebu, klaster porang dan klaster sarang burung walet.■